Direktur Program ICF, Seto Hari Wibowo, menjelaskan bahwa pendekatan ini menjadi inti pelaksanaan festival.
“Peserta tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses, mulai dari eksplorasi hingga produksi pengetahuan,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan juga mencakup business matching dan penandatanganan kerja sama. Forum ini mempertemukan berbagai pihak dari sektor berbeda.
Diskusi terkait pemetaan kawasan dan rantai pasok ekonomi juga menjadi bagian penting. Hal ini bertujuan memperkuat peluang pasar bagi produk lokal.
Rangkaian acara turut menghadirkan immersive night berbasis media art. Kegiatan ini mempertemukan budaya tradisional dengan pendekatan kreatif kontemporer.
Melalui penyelenggaraan ICF 2026, diharapkan terbentuk jejaring kolaborasi baru. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong lahirnya riset dan rekomendasi kebijakan.
Festival ini menjadi bagian dari upaya pengembangan kawasan berbasis masyarakat. Pendekatan yang digunakan menghubungkan budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal.
Informasi terkait kegiatan dapat diakses melalui kanal resmi penyelenggara. Publik dapat mengikuti perkembangan festival melalui media komunikasi ICCN dan mitra terkait.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Teka-Teki Meninggalnya Kades Buncitan Sidoarjo Terungkap, Korban Diduga Nekat Akhiri Hidup Akibat Terlilit Utang Ratusan Juta
5 Alasan Kenapa 8 Mei Dipilih Jadi Hari Palang Merah Internasional? Ini Sejarah Singkat yang Sering Terlewat
Tak Hanya Ikon Hari Perawat Internasional, Inilah Sosok Florence Nightingale Pengubah Sejarah Kesehatan Dunia
Paralayang untuk Pemula, Pengalaman Terbang yang Aman dan Penuh Sensasi
Kronologi Mahasiswa Sesak Napas di Warung, PMI Jember Turun Tangan