Minggu, 19 Juli 2026

Kisah di Balik Tradisi Halalbihalal, Strategi Politik Soekarno Menyatukan Bangsa hingga Menjadi Identitas Nasional

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Minggu, 22 Maret 2026 | 12:30 WIB
Soekarno pada halal bihalal THN 1948 untuk satukan elemen elit politik pasca kemerdekaan  (X @islamidotco)
Soekarno pada halal bihalal THN 1948 untuk satukan elemen elit politik pasca kemerdekaan (X @islamidotco)

Meskipun istilahnya lahir dari strategi politik, Halalbihalal berakar kuat pada budaya asli Indonesia, yaitu Silaturahmi.

Baca Juga: Beda Namun Miliki Makna Dalam, Warga Banjarnegoro Gelar Tradisi 'Basah-basahan' Ini Untuk Sambut Ramadhan

Halalbihalal adalah warisan jenius dari Bung Karno dan para ulama yang berhasil mengawinkan nilai spiritual silaturahmi dengan kebutuhan nasionalisme. 

Melalui tradisi ini, silaturahmi bukan lagi sekadar kunjungan biasa, melainkan perekat sosial yang menjaga keutuhan NKRI.

Seiring berjalannya waktu, Halalbihalal bertransformasi dari sekadar pertemuan elit politik menjadi tradisi massa. Mulai dari lingkungan RT, keluarga besar, hingga instansi perkantoran.

Tradisi ini membuktikan bahwa silaturahmi di Indonesia melampaui batas agama dan suku. 

Kini Halalbihalal telah menjadi identitas nasional yang menunjukkan bahwa sebesar apa pun perbedaan atau konflik yang terjadi, selalu ada jalan untuk kembali "halal" atau saling memaafkan melalui meja makan dan jabat tangan.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: lampung.nu.or.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X