Kamis, 4 Juni 2026

Gus Miftah Bagikan 200 Buku di Gereja Sleman saat Ngabuburit Lintas Agama, Serukan Merawat Kebhinekaan Indonesia

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 8 Maret 2026 | 19:13 WIB
Merawat kebinekaan dalam orasi dan ngabuburit bersama Gus Miftah di Sleman, Yogyakarta.  (Dok. SketsaNusantara.id)
Merawat kebinekaan dalam orasi dan ngabuburit bersama Gus Miftah di Sleman, Yogyakarta. (Dok. SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Kegiatan ngabuburit pada bulan Ramadan tidak hanya diisi dengan aktivitas keagamaan.

Di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ngabuburit juga menjadi ruang pertemuan tokoh lintas agama untuk membahas kebhinekaan dan kerukunan.

Ratusan tokoh agama dan masyarakat berkumpul dalam sebuah kegiatan dialog kebangsaan.

Baca Juga: Gus Miftah Blak-blakan soal MBG Program Prabowo, Sebut Pengelolaan yang Bermasalah di Tengah Sorotan 61,2 Juta Penerima

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya merawat toleransi di tengah masyarakat yang beragam.

Kegiatan tersebut berlangsung di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, pada Sabtu 7 Maret 2026.

Sekitar 200 tokoh lintas agama menghadiri kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan tersebut. Mereka datang dari berbagai latar belakang organisasi, komunitas, serta institusi masyarakat.

Baca Juga: Gus Miftah Kembali Berdakwah di Klub Malam, Gelar Tausiah dan Buka Puasa Bersama Pekerja 1001 Hotel Jakarta

Acara ini juga dihadiri tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman yang dikenal dengan nama Gus Miftah.

Selain itu hadir pula Komandan Korem 072 Pamungkas Brigjen TNI Bambang Sujarwo.

Dalam kesempatan tersebut, panitia juga membagikan buku karya Gus Miftah kepada para peserta. Sebanyak 200 buku berjudul "Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan" dibagikan kepada para tokoh yang hadir.

Buku tersebut berangkat dari kegelisahan penulis terhadap situasi kebangsaan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah peristiwa intoleransi menjadi latar belakang penulisan buku tersebut.

Kasus yang disoroti antara lain perusakan rumah ibadah, penolakan pembangunan tempat ibadah, hingga pembatasan ritual keagamaan kelompok minoritas. Selain itu, fenomena ujaran kebencian di media sosial juga menjadi perhatian.

Berbagai peristiwa tersebut menjadi refleksi mengenai tantangan kebhinekaan di Indonesia. Dalam bukunya, Gus Miftah mengajak pembaca melihat kembali berbagai kasus intoleransi yang terjadi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X