SketsaNusantara.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Lowokwaru, Kota Malang, menjadi sorotan publik setelah ditemukan belatung pada salah satu menu yang dibagikan kepada siswa.
Kepala SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2, Julfa Hannan, secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam proses pengolahan makanan tersebut.
Insiden ini terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 dan dilaporkan oleh pihak sekolah serta wali murid setelah siswa menemukan belatung di dalam puding stroberi yang menjadi bagian dari paket makanan MBG.
Baca Juga: Dunia Hanya Permainan, Rhoma Irama Mengutip Ayat Al Qur'an dan Sampaikan Pesan Ini Tanggapi Konflik Israel-AS vs Iran
Program ini sendiri merupakan upaya penyediaan makanan bergizi bagi pelajar di sejumlah sekolah di wilayah tersebut.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun x @Malangraya_info, laporan pertama mengenai temuan tersebut muncul sekitar pukul 10.30 WIB.
Sementara itu, proses distribusi makanan sudah dilakukan sejak pukul 08.00 WIB ke berbagai sekolah yang menjadi penerima program.
Program ini sendiri merupakan upaya penyediaan makanan bergizi bagi pelajar di sejumlah sekolah di wilayah tersebut.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun x @Malangraya_info, laporan pertama mengenai temuan tersebut muncul sekitar pukul 10.30 WIB.
Sementara itu, proses distribusi makanan sudah dilakukan sejak pukul 08.00 WIB ke berbagai sekolah yang menjadi penerima program.
Baca Juga: Gus Miftah Blak-blakan soal MBG Program Prabowo, Sebut Pengelolaan yang Bermasalah di Tengah Sorotan 61,2 Juta Penerima
Menanggapi temuan tersebut, Julfa Hannan tidak menampik adanya kekurangan dalam proses pengolahan makanan. Ia menegaskan bahwa sebagai penyelenggara layanan publik, pihaknya harus berani mengakui kesalahan yang terjadi.
“Namanya pelayan publik, kami pasti mengakui kesalahan. Kurang teliti atau bagaimana,” ujarnya saat memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.
Pada hari kejadian, SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 diketahui menyalurkan sebanyak 2.319 porsi makanan ke 12 sekolah yang berada di wilayah Lowokwaru.
Menanggapi temuan tersebut, Julfa Hannan tidak menampik adanya kekurangan dalam proses pengolahan makanan. Ia menegaskan bahwa sebagai penyelenggara layanan publik, pihaknya harus berani mengakui kesalahan yang terjadi.
“Namanya pelayan publik, kami pasti mengakui kesalahan. Kurang teliti atau bagaimana,” ujarnya saat memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.
Pada hari kejadian, SPPG Lowokwaru Tulusrejo 2 diketahui menyalurkan sebanyak 2.319 porsi makanan ke 12 sekolah yang berada di wilayah Lowokwaru.
Baca Juga: Bupati Jember Gus Fawait Dorong Satgas dan Pendamping MBG Guna Pastikan Program Berjalan Sempurna
Setiap paket makanan terdiri dari lima jenis menu yang telah disiapkan oleh pihak dapur penyedia.
Menu yang dibagikan kepada para siswa antara lain puding stroberi, susu UHT, muffin cokelat, kaki naga, serta kacang kribo. Setiap porsi paket makanan tersebut memiliki nilai sekitar Rp13.300 per porsi.
Dari total sekolah penerima, setidaknya lima sekolah dilaporkan menyampaikan keluhan terkait kondisi puding stroberi yang mereka terima.
Keluhan tersebut muncul setelah ditemukan adanya belatung di dalam makanan tersebut sebelum atau saat akan dikonsumsi oleh siswa.
Temuan tersebut tentu memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid mengenai kualitas serta keamanan makanan yang disediakan dalam program MBG.
Apalagi program ini ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi siswa sehingga standar kebersihan dan keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting.
Menanggapi tudingan yang berkembang di masyarakat, Julfa Hannan membantah bahwa buah stroberi yang digunakan dalam pembuatan puding tidak dicuci dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa bahan tersebut telah melalui proses pembersihan sebelum diolah.
Menurutnya, stroberi sudah direndam menggunakan air garam selama sekitar 20 menit sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan puding.
Meski demikian, ia mengakui bahwa buah stroberi memang termasuk bahan makanan yang memiliki risiko lebih tinggi dalam pengolahan.
“Stroberi sudah direndam air garam sekitar 20 menit, namun memang bahan ini termasuk yang berisiko,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa apabila temuan belatung tersebut diketahui saat proses pengolahan di dapur, maka makanan tersebut tidak akan pernah didistribusikan ke sekolah.
“Jika temuan itu diketahui di dapur, tentu menu tersebut tidak akan kami kirim,” tegasnya.
Sebagai langkah penanganan cepat, pihak SPPG segera meminta agar puding stroberi yang telah dibagikan tidak dikonsumsi oleh para siswa.
Selain itu, pihak penyelenggara juga langsung melakukan penggantian menu yang bermasalah. Penggantian tersebut dilakukan dengan cara mengantar langsung menu pengganti ke sekolah-sekolah yang terdampak.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi sekaligus memastikan siswa tetap menerima makanan dalam program MBG tanpa mengonsumsi produk yang berpotensi bermasalah.
Tidak hanya mengganti menu, pihak SPPG juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan di dapur produksi.
Evaluasi ini mencakup standar kebersihan bahan, proses pengolahan, hingga pengawasan sebelum makanan didistribusikan.
Sebagai bentuk tanggung jawab tambahan, pihak SPPG juga berencana memberikan penambahan porsi menu pada distribusi berikutnya kepada sekolah-sekolah yang terdampak.
Salah satu orang tua siswa bahkan mengungkapkan bahwa keluhan mengenai kualitas makanan program MBG sebenarnya bukan pertama kali terjadi.
Ia mengaku sebelumnya anaknya pernah mengalami sakit perut setelah mengonsumsi menu dari program tersebut.
Pernyataan ini semakin memperkuat kekhawatiran sebagian orang tua mengenai kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Mereka berharap pengawasan terhadap proses produksi makanan dapat diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terulang***
Setiap paket makanan terdiri dari lima jenis menu yang telah disiapkan oleh pihak dapur penyedia.
Menu yang dibagikan kepada para siswa antara lain puding stroberi, susu UHT, muffin cokelat, kaki naga, serta kacang kribo. Setiap porsi paket makanan tersebut memiliki nilai sekitar Rp13.300 per porsi.
Dari total sekolah penerima, setidaknya lima sekolah dilaporkan menyampaikan keluhan terkait kondisi puding stroberi yang mereka terima.
Keluhan tersebut muncul setelah ditemukan adanya belatung di dalam makanan tersebut sebelum atau saat akan dikonsumsi oleh siswa.
Temuan tersebut tentu memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua murid mengenai kualitas serta keamanan makanan yang disediakan dalam program MBG.
Apalagi program ini ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi siswa sehingga standar kebersihan dan keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting.
Menanggapi tudingan yang berkembang di masyarakat, Julfa Hannan membantah bahwa buah stroberi yang digunakan dalam pembuatan puding tidak dicuci dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa bahan tersebut telah melalui proses pembersihan sebelum diolah.
Menurutnya, stroberi sudah direndam menggunakan air garam selama sekitar 20 menit sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan puding.
Meski demikian, ia mengakui bahwa buah stroberi memang termasuk bahan makanan yang memiliki risiko lebih tinggi dalam pengolahan.
“Stroberi sudah direndam air garam sekitar 20 menit, namun memang bahan ini termasuk yang berisiko,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa apabila temuan belatung tersebut diketahui saat proses pengolahan di dapur, maka makanan tersebut tidak akan pernah didistribusikan ke sekolah.
“Jika temuan itu diketahui di dapur, tentu menu tersebut tidak akan kami kirim,” tegasnya.
Sebagai langkah penanganan cepat, pihak SPPG segera meminta agar puding stroberi yang telah dibagikan tidak dikonsumsi oleh para siswa.
Selain itu, pihak penyelenggara juga langsung melakukan penggantian menu yang bermasalah. Penggantian tersebut dilakukan dengan cara mengantar langsung menu pengganti ke sekolah-sekolah yang terdampak.
Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi sekaligus memastikan siswa tetap menerima makanan dalam program MBG tanpa mengonsumsi produk yang berpotensi bermasalah.
Tidak hanya mengganti menu, pihak SPPG juga menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan di dapur produksi.
Evaluasi ini mencakup standar kebersihan bahan, proses pengolahan, hingga pengawasan sebelum makanan didistribusikan.
Sebagai bentuk tanggung jawab tambahan, pihak SPPG juga berencana memberikan penambahan porsi menu pada distribusi berikutnya kepada sekolah-sekolah yang terdampak.
Salah satu orang tua siswa bahkan mengungkapkan bahwa keluhan mengenai kualitas makanan program MBG sebenarnya bukan pertama kali terjadi.
Ia mengaku sebelumnya anaknya pernah mengalami sakit perut setelah mengonsumsi menu dari program tersebut.
Pernyataan ini semakin memperkuat kekhawatiran sebagian orang tua mengenai kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Mereka berharap pengawasan terhadap proses produksi makanan dapat diperketat agar kejadian serupa tidak kembali terulang***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Menu MBG Ramadhan Diprotes, SPPG Bekasi Barat Didatangi Emak-emak, Keluhan Viral sejak Hari Pertama Sekolah
Program MBG Bakal Jadi Booster Ekonomi Jember, Serap 15 Ribu Tenaga Kerja dan Raup Keuntungan Sebesar Rp4 Triliun
Viral Dugaan Jual Beli Titik MBG Terverifikasi di Media Sosial, Apa Kegunaannya?
Pastikan Kualitas MBG, Pj Sekda Jember Warning SPPG Wajib Menyiapkan Sampel Makanan yang Dikirim
Viral! Menu MBG di Pulau Tello Nias Selatan Diduga Berisi Cacing dan Kotoran Ayam