Gerhana Bulan terjadi saat cahaya Matahari menuju Bulan terhalang oleh Bumi. Peristiwa ini hanya berlangsung ketika fase purnama. Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus.
Pada gerhana bulan total, seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi. Kondisi ini menyebabkan Bulan tampak berwarna kemerahan. Warna tersebut muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 dapat dinikmati tanpa risiko terhadap penglihatan. Berbeda dengan gerhana Matahari, pengamatan tidak memerlukan pelindung khusus. Masyarakat dapat menyaksikannya langsung dengan mata telanjang.
Fenomena ini menjadi momentum edukasi astronomi bagi berbagai kalangan. Pengamatan bersama dapat meningkatkan pemahaman tentang dinamika tata surya. Peristiwa langit ini sekaligus memperkaya pengalaman visual masyarakat Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Apa itu Worm Blood Moon? Intip 5 Fakta Menarik Fenomena Langka Bulan Darah yang Bisa Dilihat di Indonesia saat Gerhana Bulan Total 14 Maret 2025
Apa Itu Cap Go Meh dan Bedanya dengan Imlek? Ini Arti Nama, Sejarah Panjang, dan Tradisi Khas Nusantara yang Menyertainya
Dari Panggung Hiburan, Azis Gagap Kini Fokus Ternak Kambing: yang Penting Bersyukur
Bolehkah Tidur Lagi Setelah Sahur? Begini Kata Dokter Tirta Mengenai Risikonya Bagi Tubuh
2 Gudang Pengeringan Tembakau Milik Warga di Balung, Jember Terbakar, Kerugian Ditaksir Mencapai Miliaran
Eva Manurung dan Febby Carol Spill 3 Fakta Lindi Fitriyana, Rupanya Begini Sifat Asli Istri Virgoun yang Baru