Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons terhadap sindiran sebagian Knetz terhadap video musik (MV) girlband Indonesia No Na yang menampilkan latar sawah.
Knetz menilai video clip No Na "nggak modal" jika dibandingkan dengan MV grup boyband Korea Selatan yang lebih estetik dan penuh sentuhan editing canggih.
Padahal, visual tesebut bukanlah sesuatu yang patut direndahkan, bahkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara ASEAN. Justru, sektor pertanian dan sumber daya kawasan Asia Tenggara memiliki peran penting dalam rantai pasok global.
Tak sampai di situ, Rhenald juga menyoroti perbedaan sikap netizen Korea yang cenderung menunjukkan rasa hormat tinggi terhadap negara-negara Barat seperti Amerika Serikat atau Eropa, bahkan berhati-hati terhadap Jepang dan China.
Ia menyinggung kolaborasi artis Korea dengan musisi global sebagai bentuk "soft power" yang mendapat validasi dari negara-negara Barat, sehingga muncul pandangan bahwa warga Korea merasa lebih unggul dibandingkan negara lainnya.
"Padahal setiap bangsa punya keunikan sendiri-sendiri dan ada yang unggul di dunia. Perancis, misalnya unggul di fashion dan makanan, Italia juga begitu. Lalu kemudian bangsa-bangsa Eropa punya ciri khas sendiri dalam budayanya," tuturnya.
"Amerika punya Hollywood, India punya Bollywood dan kemudian ini menjadi pertaruhan. Ingat juga kata Obama. Kalau ingin menjadi bangsa yang dihormati, harus menimbulkan kekaguman," ujarnya.
Menurutnya, perseteruan SEAblings vs Knetz di media sosial belakangan ini bisa meruntuhkan soft power Korea Selatan. Negara bisa runtuh bukan karena budayanya lemah, melainkan bisa tergerus oleh perilaku warganya sendiri.
Rhenald menegaskan bahwa ASEAN bukanlah kawasan yang bisa diremehkan. Dengan populasi besar, pertumbuhan ekonomi signifikan, serta peran strategis dalam perdagangan internasional, Asia Tenggara memiliki peran kuat sebagai "tulang punggung" global.
Ia bahkan menyebut China sangat berhati-hati terhadap ASEAN karena menyadari pentingnya kawasan ini dalam rantai pasok dan stabilitas regional.
"Kalau sama Eropa, Amerika, kelihatannya orang Korea ini takut, karena Amerika dianggap sebagai guru yang membesarkan mereka. Kolaborasi artis dengan musisi besar juga seolah menjadi validasi bagi mereka," ujarnya.
"Sama Jepang juga, mereka ragu-ragu. Lawan Cina juga, mereka takut-takut. Tapi sama ASEAN, mereka (netizen Korea) berani sekali, dan bahkan ngata-ngatain kita," lanjutnya.
Artikel Terkait
Kisah Kerajaan Maritim Nusantara yang Kuasai Jalur Perdagangan Asia Tenggara, Benarkah Pusat Perdagangan yang Jatuh Karena Konflik?
Bambang Pacul Diteriaki 'Korea' saat Namanya Disebut Sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PDIP, Apa Maksudnya?
Berapa Biaya Operasi Plastik di Korea Selatan, Artis Ini Sebut Angka Fantastis untuk Prosedur Kecantikan, Capai Ratusan Juta Rupiah?
Mahasiswa Indonesia Juara Dunia Lomba IT Internasional: Kalahkan Jepang dan Korea, Buktikan Kelas Dunia
Jadi Tuan Rumah di Jakarta, Indonesia Tantang Irak hingga Korea Selatan di AFC Futsal Asian Cup 2026
Animasi Jumbo Tembus Korea Selatan, Bukti Karya Anak Bangsa Makin Diperhitungkan Global