"Padahal Cina aja sangat sayang sekali sama ASEAN, dan sangat berhati-hati, karena mereka tahu bahwa ASEAN ini tulang punggung dalam ekonomi global. Ini sangat penting sekali diperhatikan," tambahnya.
Menurutnya, perseteruan Seablings vs Knetz belakangan ini menjadi cermin perubahan peta global. Ia juga melihat munculnya fenomena baru di mana publik mulai memisahkan antara budaya dan perilaku individu.
"Sekarang terjadi perubahan besar-besaran, dan kita mulai memisahkan antara budayanya, tontonannya, dengan orang-orangnya," kata Rhenald.
"Kalau tidak hati-hati, K-pop ini tentu akan mengalami keruntuhan. Soft power itu tidak menimbulkan runtuh, karena budayanya lemah, tetapi karena perilaku dari warga negaranya sendiri," pungkasnya.
Di tengah panasnya perdebatan SEAblings vs Knetz, pernyataan Rhenald Kasali menambah wawasan baru yang patut diperhatikan dalam ruang diskusi di dunia digital.
Fenomena SEAblings vs Knetz bukan lagi sekadar perang komentar di media sosial, tetapi refleksi tentang bagaimana bangsa memandang bangsa lain, dan bagaimana sikap warganya bisa memengaruhi citra global negaranya sendiri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Kisah Kerajaan Maritim Nusantara yang Kuasai Jalur Perdagangan Asia Tenggara, Benarkah Pusat Perdagangan yang Jatuh Karena Konflik?
Bambang Pacul Diteriaki 'Korea' saat Namanya Disebut Sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PDIP, Apa Maksudnya?
Berapa Biaya Operasi Plastik di Korea Selatan, Artis Ini Sebut Angka Fantastis untuk Prosedur Kecantikan, Capai Ratusan Juta Rupiah?
Mahasiswa Indonesia Juara Dunia Lomba IT Internasional: Kalahkan Jepang dan Korea, Buktikan Kelas Dunia
Jadi Tuan Rumah di Jakarta, Indonesia Tantang Irak hingga Korea Selatan di AFC Futsal Asian Cup 2026
Animasi Jumbo Tembus Korea Selatan, Bukti Karya Anak Bangsa Makin Diperhitungkan Global