Minggu, 19 Juli 2026

Ambil Spirit Pengabdian dan Keteladanan, Gelar Bedah Buku Cahaya Sang Kiai

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Minggu, 15 Februari 2026 | 21:05 WIB
Salah satu narasumber mengulas isi buku berjudul Cahaya Sang Kiai  (SketsaNusantara.id)
Salah satu narasumber mengulas isi buku berjudul Cahaya Sang Kiai (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Buku baru berjudul Cahaya Sang Kiai dibedah di aula Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Diwek, Jombang, Minggu 15 Februari 2026. Acara diikuti ratusan peserta.

Hadir sebagai pemateri Farhan Rafi selaku penulis. Narasumber pembanding Dr Wasid Mansyur, dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Mukani, dosen STAI Darussalam Nganjuk.

Ketua panitia Rifatuz Zuhro menjelaskan, buku ini kumpulan dari karya 23 penulis. "Isinya tentang kiprah perjuangan dan pengabdian dari 33 kiai kampung dan ibu nyai," ujarnya.

Undangan peserta yang disebar, lanjutnya, sebanyak 120 surat. "Baik kepada keturunan para kiai kampung, para ketua ranting dan badan otonomi NU yang ada," imbuhnya.

Baca Juga: Daftar Twibbon Ramadhan 1447 H, Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Bingkai Foto Istimewa

"Ada dzuriyah kiai kampung yang ditulis bisa hadir dari Yogyakarta dan Jember," katanya. "Termasuk peserta undangan dari Nganjuk, Kediri, dan Mojokerto," tuturnya.

Apresiasi diberikan Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak, Hj Nur Laili Rahmah. "Kita bisa banyak belajar teladan dari para kiai kampung dan ibu nyai yang ada ditulis dalam buku ini," ujarnya.

Hal senada disampaikan KH Hamdi Soleh, Ketua MWCNU Diwek. "Setua ini saya ikuti organisasi NU, baru kali ini kiprah para kiai kampung ditulis menjadi buku," ujarnya.

Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Pasuruan, Anak 7 Tahun Meninggal Dunia Ditabrak Mobil saat Duduk di atas Motor Parkir

Saat menyampaikan materi, Farhan Rafi menuturkan liku-liku dalam menyusun buku yang dibedah. "Kadang kita kendor saat menulis karena data belum lengkap, tapi itu jadi tantangan," ujarnya.

Dia mengakui memang butuh motivasi agar penulisan buku bisa selesai sesuai target. "Agar kita bisa membaca berbagai kisah keteladanan para tokoh yang ditulis," imbuhnya.

Menulis banyak tokoh dengan banyak penulis, menurut Dr Wasid Mansyur, menjadi tantangan sendiri. "Karena tiap penulis tidak sama kemampuan dalam menulis," ujarnya.

Baca Juga: Antisipasi Banjir Susulan, DPUBM Jatim Evaluasi Desain Jembatan Rendah di Jember

Tapi dia mengapresiasi penerbitan buku ini. "Menjadi awal embrio penulisan para tokoh lainnya ke depan, ini harus dikawal," ujarnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X