SketsaNusantara.id — Rentetan aktivitas gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menjadi perhatian serius Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Lia Istifhama.
Menurutnya, munculnya puluhan gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 6,2 merupakan sinyal kuat bahwa kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan gempa harus diperkuat secara menyeluruh dan berjangka panjang.
Lia menilai, meskipun hasil pemantauan menyebutkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami, dampak yang ditimbulkan di lapangan tidak dapat dianggap ringan. Kerusakan bangunan dan adanya korban luka menjadi indikator bahwa sistem mitigasi dan ketahanan infrastruktur masih perlu dievaluasi secara serius.
“Gempa beruntun seperti ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Ini adalah pengingat bahwa wilayah selatan Jawa berada di zona rawan dan membutuhkan kesiapan yang lebih matang, baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat,” ujar Lia dalam pernyataan resminya, Jumat 6 Februari 2026.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Jumat malam telah terjadi 34 gempa susulan dengan variasi kekuatan, mulai dari magnitudo 2,1 hingga magnitudo 4,2. Gempa utama terjadi dini hari, tepatnya pukul 01.06 WIB, dengan pusat gempa berada di perairan laut sekitar 89 kilometer tenggara Pacitan, pada kedalaman 58 kilometer.
Guncangan gempa tidak hanya dirasakan di Pacitan, tetapi juga berdampak pada sejumlah wilayah di Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan kerusakan mencakup rumah warga, fasilitas pemerintahan, sarana pendidikan, tempat ibadah, hingga fasilitas kesehatan. Selain itu, sejumlah warga dilaporkan mengalami luka akibat tertimpa bangunan atau kepanikan saat gempa terjadi.
Menanggapi kondisi tersebut, Lia menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanganan bencana. Ia mendorong agar upaya mitigasi tidak lagi berfokus pada respons darurat semata, tetapi lebih menitikberatkan pada langkah pencegahan dan kesiapan sejak dini.
“Pemeriksaan ketahanan bangunan, penataan ulang jalur evakuasi, serta ketersediaan ruang aman harus menjadi agenda rutin, terutama di daerah yang berulang kali terdampak gempa,” katanya.
Selain infrastruktur fisik, Lia juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi kebencanaan di tengah masyarakat. Menurutnya, pemahaman warga tentang cara menyelamatkan diri saat gempa dapat secara signifikan mengurangi risiko korban jiwa.
Ia menambahkan bahwa koordinasi antarinstansi menjadi faktor krusial dalam menghadapi situasi kebencanaan. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BMKG, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dinilai perlu diperkuat agar penanganan bencana berjalan cepat, tepat, dan terintegrasi.
“Negara harus hadir secara nyata, tidak hanya saat darurat, tetapi juga dalam memastikan warga siap menghadapi potensi bencana di masa depan,” tutup Lia Istifhama.***
Artikel Terkait
Jejak Karier Ketua PN Depok, I Wayan Eka Mariarta Sebelum Ditangkap KPK dalam OTT, Pernah Jadi Ketua PN Bondowoso
Bupati Jember Gus Fawait Ancam Cabut Izin Dapur Gizi yang Lalai, Instruksikan Satgas MBG Bertindak Cepat
OTT di Pengadilan Negeri Depok, KPK Tangkap 7 Orang, Ada Hakim hingga Direktur PT KRB, Perusahaan di Bawah Kemenkeu
Viral Pria Tendang Kucing di Blora, Pemilik Tegas Tolak Damai Meski Ada Tawaran Ganti Rugi
IHSG Mulai Menguat, Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Penguatan Investasi Daerah untuk Ekonomi Berkelanjutan