Kamis, 4 Juni 2026

Anies Baswedan Kecam Invasi Militer AS ke Venezuela yang Berpotensi Mengancam Stabilitas Global, Dino Patti Djalal: Ujian bagi Polugri Indonesia

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Senin, 5 Januari 2026 | 07:00 WIB
Potret Anies Baswedan tanggapi soal serangan militer AS ke Venezuela hingga penangkapan Nicolas Maduro yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan (X/aniesbaswedan)
Potret Anies Baswedan tanggapi soal serangan militer AS ke Venezuela hingga penangkapan Nicolas Maduro yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan (X/aniesbaswedan)

"Hal ini beresiko memicu ketidakstabilan yang meluas, memaksa negara-negara seperti Indonesia untuk menavigasi kepentingan nasional kita secara lebih strategis, daripada sekedar mengikuti arus ideologis," tuturnya.

Anies menekankan bahwa dampak dari peristiwa ini tidak hanya terbatas pada Venezuela. Ia melihat apa yang terjadi sebagai preseden berbahaya bagi negara-negara berkembang.

Menurutnya, apa yang dilakukan AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membatasi kebebasan Global South dalam mengelola sumber daya strategisnya sendiri.

"Apa yang terjadi pada Venezuela juga menjadi preseden bagi negara-negara berkembang lainnya. Ini melampaui pelanggaran kedaulatan," tegasnya.

"Ini adalah upaya yang disengaja untuk membatasi kebebasan negara-negara Selatan dalam mengelola sumber daya mereka sendiri. Kita harus memperkuat solidaritas diantara negara-negara berkembang untuk melindungi prinsip-prinsip non-intervensi yang telah lama kita perjuangkan," pesannya.

Venezuela, sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, menjadi contoh nyata bagaimana kepentingan geopolitik dan ekonomi dapat mengalahkan prinsip hukum internasional.

Baca Juga: Tuai Kecaman, Ketegangan Amerika Serikat dengan Venezuela Picu Kekhawatiran Publik, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Lebih lanjut, Anies mengkritik lemahnya peran institusi multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS).

Ia menilai kegagalan mekanisme diplomasi global ini menunjukkan bahwa pendekatan lunak dalam penyelesaian konflik, termasuk model “ASEAN Way” yang mengandalkan konsensus dan non-konfrontasi, semakin tidak memadai ketika berhadapan dengan konflik terbuka dan kekuatan militer besar.

"Kelemahan diplomasi multilateral seperti melalui PBB atau OAS semakin terlihat jelas sehingga pendekatan lunak seperti ASEAN Way menjadi kurang efektif dalam menghadapi konfrontasi langsung," ucap Anies.

Dalam pandangan Anies, situasi ini seharusnya menjadi alarm bagi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa terus berada dalam posisi netral yang pasif.

Menurutnya, ketidakstabilan global akibat konflik seperti di Venezuela berpotensi menyeret negara-negara berkembang menjadi korban tidak langsung, baik melalui tekanan ekonomi, geopolitik, maupun krisis energi.

Anies justru melihat peluang strategis bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar. Ia menyebut bahwa Indonesia memiliki legitimasi moral dan historis untuk memimpin inisiatif negara-negara berkembang dalam memperjuangkan prinsip non-intervensi dan kedaulatan nasional.

Melalui forum internasional seperti PBB, Indonesia dinilai dapat mendorong reformasi tata kelola global dari perspektif Global South, khususnya terkait pengelolaan sumber daya strategis dan perlindungan terhadap negara berkembang.

"Sudah saatnya kita mengembangkan diplomasi yang lebih proaktif, termasuk jaringan dengan aktor non-negara untuk mediasi yang efektif, daripada netralitas pasif yang membuat kita rentan sebagai korban," sambungnya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: X @aniesbaswedan, X @dinopattidjalal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X