SketsaNusantara.id - Ada banyak hal yang bisa disiapkan dalam sebuah perundingan dagang. Namun, tidak semuanya bisa dikendalikan.
Di balik pertemuan tingkat tinggi yang disiapkan pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat, ada satu ironi yang menyita perhatian publik.
Negara sebesar Indonesia, dengan mitra dagang sekuat Amerika, ternyata belum juga menunjuk duta besar tetap di Washington D.C.
Baca Juga: Donald Trump Naikkan Tarif 32 Persen untuk Indonesia, Jusuf Kalla Sebut Indonesia Tak Perlu Khawatir
Kekosongan kursi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat bukan hal sepele. Terakhir kali, posisi strategis ini diisi oleh Rosan Roeslani yang dilantik pada Oktober 2021. Namun, masa jabatannya hanya berlangsung hingga Juli 2023, sebelum ia ditarik pulang dan ditugaskan sebagai Wakil Menteri BUMN.
Karier Rosan terus melejit di pemerintahan. Ia bahkan sempat menjadi Menteri Investasi dan kini menduduki posisi CEO Danantara di bawah kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Namun, sejak kepergiannya dari Washington, posisi Dubes RI untuk AS dibiarkan kosong hingga kini sudah hampir 2 tahun berlalu.
Situasi ini menjadi sorotan, apalagi saat hubungan dagang Indonesia dan AS tengah memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menerapkan kebijakan tarif resiprokal yang menyasar produk asal Indonesia.
Di tengah ketegangan tersebut, pemerintah Indonesia tetap memilih jalur diplomasi. Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, menyatakan bahwa kekosongan posisi duta besar tidak akan menghambat proses negosiasi. Alasannya, perundingan ini akan dilakukan di level tinggi, langsung antar menteri.
"Ya kita kan kalau begini (proses negosiasi) udah high level (pertemuan tingkat tinggi) ya," kata Havas kepada awak media, Senin 7 April 2025.
Baca Juga: Trump Bekukan Bantuan HIV: WHO dan Indonesia Siap Hadapi Krisis Kesehatan?
Delegasi Indonesia dalam perundingan tarif ini akan dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Airlangga pun terlihat optimistis. Ia menyebut Indonesia telah menyiapkan sejumlah strategi negosiasi yang akan dibawa ke Washington, sembari menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan dagang yang sehat tanpa perlu melakukan aksi balasan.
Artikel Terkait
Hary Tanoesoedibjo Pamer Momen Hadiri Acara Kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat, Bikin Salfok Netizen: Sejak Kapan Mereka Berteman?
Profil Hary Tanoesoedibjo, Politisi dan Crazy Rich Indonesia yang Dekat dengan Donald Trump, Pernah Dituding Melanggar Hukum Gara-Gara Ini
6 Poin Perbincangan Prabowo dengan Donald Trump via Telepon, Sampaikan Selamat ke Presiden AS Terpilih hingga Bahas Insiden Penembakan saat Kampanye
Jared Kushner Disebut Prabowo saat Telepon Donald Trump, Ini Profil Mantan Penasihat Presiden AS yang Kontroversial ketika Tangani Timur Tengah