SketsaNusantara.id - Presiden Prabowo Subianto mensyukuri banyaknya kelapa sawit yang tumbuh subur di tanah negara Indonesia.
Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara puncak Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat, 5 Desember 2025.
"Di Laut Merah, di depan Yaman terhenti. Nanti, (di Selat) Hormuz bisa terhenti. Saudara-saudara, kalau kita tergantung impor, kita enggak mampu bayar nanti harga BBM," ucapnya.
Baca Juga: Jawaban Nyeleneh Puan Maharani Terkait Ajakan Pandawara Group Untuk Gotong Royong Membeli Hutan
Iapun bersyukur Indonesia mendapatkan karunia sebagai produsen kelapa sawit.
"Tapi kita diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, kita punya kelapa sawit. Kelapa sawit bisa jadi BBM, bisa jadi solar," katanya, dilansir dari akun Instagram @awreceh.
Prabowo juga menyoroti soal bencana banjir bandang yang terjadi di Sumatra.
Menurutnya, bantuan logistik tidak akan tersalurkan jika kurangnya pasokan BBM.
"Sekarang dengan bencana di Sumatra saja bagaimana repotnya kita mengantar BBM ke daerah-daerah bencana,"
"Jembatan putus, BBM harus kita naikin pesawat, sebagian lewat kapal,” imbuhnya.
Menurutnya musibah yang menimpa beberapa daerah di Indonesia itu sebagai bentuk ujian bahwa Indonesia adalah negara yang kuat.
"Jadi saudara-saudara ini bencana ini sekali lagi ya musibah tapi di sisi lain menguji kita dan Alhamdulillah kita kuat," lanjutnya.
Artikel Terkait
Gus Fawait Sampaikan Pesan Prabowo, Dorong Optimalisasi Lahan dan Ekonomi Petani di Semboro Jember
Pesan Tegas Prabowo di Hari Guru 2025 tentang Murid Nakal dan Peran Orang Tua, Kisah Kepala Sekolah dan Anak Jenderal Ini Jadi Sorotan
Fedi Nuril Minta Menteri Kehutanan Diganti, Ungkit Kata-Kata Prabowo tentang Merit System: Raja Juli Antoni Ini...
Di Hadapan Pengungsi Padang Pariaman, Prabowo Tegaskan Janji: 'Kita Sikat Maling Uang Rakyat!'
2 Bupati Menyatakan Tidak Mampu Tangani Bencana, Status Darurat Nasional Jadi Sorotan setelah Respons Prabowo di Sumatera
Prabowo Tunjukkan Foto Bayi Panda ke Ketua MPR China, Kisah Satrio Wiratama yang Lahir Setelah 10 Tahun Jadi Bagian Diplomasi di Istana Merdeka