Kamis, 4 Juni 2026

Bertugas di Daerah 3T, Kemenag RI Beri Anugerah pada Guru PAl Asal Riau

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Minggu, 7 Desember 2025 | 16:05 WIB
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar bersama 21 guru dan pengawas PAI penerima anugerah. (SketsaNusantara.id)
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar bersama 21 guru dan pengawas PAI penerima anugerah. (SketsaNusantara.id)

SketsaNusantara.id - Nama aslinya Muhammad Redha Sy. Pria kelahiran Sei Luar Provinsi Riau tanggal 12 November 1983 ini bukan sembarang guru pendidikan agama Islam (PAI).

Tempat tugasnya di SDN 037 Kotabaru Reteh Provinsi Riau. Jaraknya memang hanya 10 kilomter dari rumah tinggalnya.

Namun kondisi geografis yang tidak ekonomis mengharuskannya menghadapi tantangan yang tidak mudah. Jalanan rusak, masuk hutan hingga menyeberangi sungai dilakukan demi melaksanakan tugas.

Baca Juga: Pesan Tegas Prabowo di Hari Guru 2025 tentang Murid Nakal dan Peran Orang Tua, Kisah Kepala Sekolah dan Anak Jenderal Ini Jadi Sorotan

Tidak heran jika kemudian dia dipilih oleh Kementerian Agama Rl sebagai juara pertama anugerah guru dedikatif pengabdian di wilayah tantangan geografis. Penganugerahan digelar di Gedung Sasana Kriya TMll Jakarta, Sabtu 6 November 2025, malam.

Acara tersebut merupakan puncak peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025. Kemenag RI memilih 21 orang guru atau pengawas PAI (Pendidikan Agama Islam) yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain diberikan penghargaan atas dedikasinya, mereka juga menerima donasi dari Kemenag RI.

Baca Juga: Rencana Bahasa Portugis Masuk Sekolah: Pemerintah Ungkap Tahapan Kajian, Kesiapan Guru, dan Skema Pengajaran Bahasa Asing

"Yang memberikan langsung oleh Bapak Menteri Agama Rl," ujarnya memulai obrolan. Penghargaan ini, lanjutnya, sebagai kado spesial di akhir tahun bagi keluarganya.

Dia berkisah, guru menjadi cita-citanya sejak kecil. "Jadi tetap harus semangat melaksanakan tugas mencerdaskan anak bangsa," imbuhnya.

Sebagai abdi negara, baginya, adalah panggilan jiwa untuk ikhlas. "Terutama dalam menyampaikan ilmu secara personal dan kelembagaan," tandasnya.

Baca Juga: Pramoedya, Bukan Pasar Malam, dan Guru yang Selalu Jadi Korban Sejarah

Dirinya merasa senang karena perjuangannya diperhatikan pemerintah. "Bahkan diberi apresiasi dan penghargaan dari pemerintah," ujarnya bangga.

Namun dirinya juga bersedih karena infrastruktur di daerahnya yang masih perlu dibenahi. "Padahal kita tahu, negeri ini kaya. Katanya penghasil minyak terbesar," katanya.

Baca Juga: Digitalisasi Pendidikan sebagai Momentum Pemuliaan Profesi Guru

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X