Kamis, 4 Juni 2026

Proyek Kereta Cepat Whoosh Diduga Sarat Permainan, Negara Bisa Rugi Rp75 Triliun?

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 30 Oktober 2025 | 18:37 WIB
Jokowi dan kereta cepat Whoosh. (X @alisyarief)
Jokowi dan kereta cepat Whoosh. (X @alisyarief)

SketsaNusantara.id - Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menyoroti dugaan adanya pemufakatan jahat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Ia mengungkap sejumlah perbedaan mencolok antara penawaran Jepang dan China, mulai dari nilai proyek hingga bunga pinjaman.

Anthony menjelaskan bahwa penawaran awal Jepang untuk proyek tersebut bernilai 6,2 miliar dolar Amerika.

Baca Juga: Ditanya Alasan KPK Tak Kunjung Selidiki Dugaan Korupsi Whoosh, Mahfud MD: Entah Takut Pada Siapa

Sementara itu, China menawarkan 5,5 miliar dolar Amerika, yang kemudian meningkat menjadi 6,07 miliar dolar Amerika.

Selisih keduanya sekitar 570 juta dolar Amerika. Namun, angka dari China terus membengkak karena adanya biaya tambahan atau cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar Amerika. Total nilai proyek pun naik menjadi 7,27 miliar dolar Amerika

Perbandingan Bunga Pinjaman Jepang dan China

Anthony memaparkan bahwa perbedaan tak hanya terjadi pada nilai proyek, tetapi juga pada bunga pinjaman yang ditawarkan kedua negara.

Baca Juga: Siapa yang Kendalikan Whoosh? Mahfud MD Ungkap Pejabat Strategis Proyek Didominasi China Meski Saham RI 60 Persen

“Jepang menawarkan bunga 0,1 persen bunga pinjaman karena Indonesia nih nggak ada duit, jadi 75 persen harus pinjam dari nilai proyek,” kata Anthony Budiawan dalam siaran podcast Obrolan Waras yang diunggah di kanal YouTube Bambang Widjojanto pada Kamis, 30 Oktober 2025.

“Nah, China menawarkan yang 6,07 miliar dolar Amerika itu yang 75 persennya adalah pinjaman, suku bunganya 2 persen per tahun, 20 kali lipat,” tambahnya.

Menurut hitungannya, 75 persen dari nilai proyek termasuk cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar Amerika berarti sekitar 900 juta dolar Amerika.

Dengan bunga 3,4 persen per tahun, total beban selama masa konsesi proyek, yang mencakup masa tenggang 10 tahun dan pelunasan pokok selama 40 tahun, dinilai terlalu tinggi. “Itu proyek China, total selama konsesi proyek kemahalan 4,5 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp75 triliun,” terang Anthony.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X