Kamis, 4 Juni 2026

Prabowo Subianto Tuai Kritik Tajam Wacana Memasukkan Bahasa Portugis pada Kurikulum Sekolah, Pengamat Pendidikan: Penting Banget?

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:15 WIB
Prabowo bersama presiden Brazil  (YouTube KOMPASTV )
Prabowo bersama presiden Brazil (YouTube KOMPASTV )

SketsaNusantara.id – Wacana Presiden Prabowo Subianto untuk memasukkan Bahasa Portugis sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah Indonesia terus menuai respons kritis. 

Kali ini, kritik datang dari pengamat pendidikan yang juga mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

"Kalau melihat kebijakan itu jangan melihat kebijakan atas dasar kemauan seseorang meskipun ia seorang presiden ya," tegas Retno Listyarti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube KOMPASTV.

Baca Juga: Beri Sambutan Hari Santri, Presiden Prabowo Kenang Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari, Serukan Santri Jaga Moral dan Pelopori Kemajuan Bangsa

Menurut Retno, kebijakan yang diumumkan Presiden Prabowo di hadapan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva ini perlu dikaji secara mendalam, terutama terkait urgensi, beban kurikulum, dan ketersediaan sumber daya.

"Karena kebijakan pendidikan itu harus didasarkan pada pertama undang-undangnya bagaimana, kedua tujuan pendidikan nasional sendiri ke arah mana itu dan apakah penting banget bahasa Portugis," imbuhnya.

Retno Listyarti menyoroti kekhawatiran utama yang sama dengan pengamat lain, yaitu potensi penambahan beban yang signifikan bagi para peserta didik. 

Baca Juga: Setahun Prabowo, Bahlil Lahadalia Laporkan 1.100 Desa Berhasil Dialiri Listrik, Menteri ESDM: Sambil Kita...

Kurikulum pendidikan di Indonesia, baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka, sudah tergolong padat dengan berbagai materi esensial.

"Penambahan mata pelajaran baru, apalagi bahasa asing, harus benar-benar didasarkan pada analisis kebutuhan strategis yang kuat dan bukan sekadar gestur diplomatik," ujar Retno.

Ia menekankan bahwa sistem pendidikan seharusnya fokus pada penguatan kemampuan dasar, seperti literasi, numerasi, dan karakter, ketimbang terus "membalak" kurikulum dengan mata pelajaran tambahan yang belum teruji relevansinya secara luas.

"Ke arah mana tujuan pendidikan itu? apakah penting banget itu bahasa Portugis dan yang ketiga itu kebutuhan masyarakat," ungkapnya.

Retno mempertanyakan relevansi Bahasa Portugis dibandingkan dengan bahasa asing lain yang sudah terbukti memiliki dampak ekonomi dan teknologi yang lebih besar, seperti Bahasa Mandarin, Jepang, atau Jerman.

"Itu harus disertai kajian dulu, tidak bisa langsung ditindaklanjuti tapi kalau mengingat pemerintah saat ini apapun kalau itu political will dan keinginan presiden biasanya dilaksanakan," tegasnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X