Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Layar Televisi Melukai Hati Santri

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 08:35 WIB
Nasilatul Ikhtiyari Assyarqawi (dok. SketsaNusantara.id)
Nasilatul Ikhtiyari Assyarqawi (dok. SketsaNusantara.id)


Oleh: Nasilatul Ikhtiyari Assyarqawi*

SketsaNusantara.id - Beberapa hari terakhir, keramaian media sosial bertambah karena tayangan televisi. Hati para santri di seluruh Indonesia serasa terusik memperbincangkan tayangan salah satu stasiun televisi swasta nasional, Trans7. Suguhan video menyorot kehidupan pesantren dan sosok kiai itu tidak hanya keliru, tetapi juga menyesatkan dan menyinggung martabat dunia pesantren dengan mengangkat narasi yang menggiring opini negatif. Tayangan itu seolah-olah membuka “sisi gelap” pesantren, padahal yang mereka anggap gelap justru adalah cahaya yang belum mereka pahami.

Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan pesantren, saya merasa bukan hanya kecewa, tapi juga terluka. Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, namun pesantren adalah sebagai ruang peradaban, tempat ribuan anak muda belajar makna hidup, disiplin, dan cinta ilmu. Dibalik pakaian yang sederhana dan tradisi yang mungkin tampak asing bagi dunia luar, tersimpan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter bangsa: tawadhu’, ikhlas, dan hormat kepada guru.

Dalam tayangan itu, pesantren digambarkan sebagai tempat dengan ritual aneh dan perilaku yang dianggap “menyimpang dari modernitas”. Ada potongan santri mencium tangan kiai, yang diberi narasi seolah bentuk “pengkultusan”. Padahal, siapa pun yang pernah menjejakkan kaki di pesantren tahu — mencium tangan kiai bukanlah bentuk pemujaan, tetapi ekspresi tawadhu’, penghormatan yang lahir dari hati yang tulus.

Baca Juga: Jadi Gampang Emosi dan Tingkatkan Stress! Psikolog Sebut Cuaca Panas di Indonesia Berdampak Besar pada Kesehatan Mental, Ini Cara Mengatasinya

Sayangnya, potongan-potongan video yang disiarkan Trans7 justru memotong makna itu. Mereka mengambil sudut sempit dari lautan luas kehidupan pesantren, lalu mengubahnya menjadi cerita sensasi. Mungkin bagi mereka itu hanya “konten”. Tapi bagi kami, itu adalah luka karena yang mereka sentuh bukan sekadar citra lembaga, melainkan kehormatan para ulama.

Sungguh ironis, di tengah era keterbukaan informasi, media besar justru jatuh dalam jebakan sensasi. Apakah nilai-nilai jurnalistik kini digantikan oleh logika rating dan klik semata?

Saya percaya, banyak santri yang malam itu tidak bisa menahan perasaan sedih dan marah. Bukan karena pesantren merasa suci, tapi karena tayangan itu tidak adil. Ia menggiring publik untuk melihat pesantren dari sisi yang gelap, tanpa mau memahami cahaya yang sebenarnya memancar dari dalamnya.

Baca Juga: KPK Turun Tangan Kawal Program Makan Bergizi Gratis Prabowo, Soroti Celah Rawan dan Efektivitas di Lapangan

Luka itu tidak terlihat, tapi terasa dalam. Karena yang diserang bukan bangunan, melainkan nilai-nilai yang selama ini dijaga dengan pengorbanan. Setiap kitab yang dipelajari dengan sabar, setiap sujud yang dilakukan di tengah malam, seakan diremehkan oleh narasi yang disusun tanpa empati.

Bagi masyarakat luar mungkin itu hanya tontonan. Tapi bagi kami, itu tentang harga diri, tentang kehormatan guru yang kami cintai, tentang lembaga yang menjadi rumah bagi ratusan ribu anak bangsa.

Kebebasan pers adalah pilar penting demokrasi. Namun kebebasan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral. Ketika media memegang mikrofon, ia tidak hanya bicara — ia membentuk pandangan dunia. Ketika media salah dalam menggambarkan realitas, dampaknya bukan hanya kesalahpahaman, tapi juga keretakan kepercayaan.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024, KPK Telusuri Aliran Uang dan Peran Asosiasi Penyelenggara

Etika jurnalistik seharusnya menjadi pagar bagi setiap jurnalis. Tapi ketika pagar itu diabaikan, berita berubah menjadi senjata. Tayangan Trans7 bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi bentuk abainya empati sosial terhadap komunitas religius yang telah berkontribusi besar bagi bangsa ini.
Saya tidak menolak kritik terhadap pesantren. Kritik bisa menjadi cermin untuk berbenah. Namun, ketika kritik berubah menjadi fitnah, ketika fakta digiring menjadi prasangka, maka yang rusak bukan hanya nama pesantrennya, melainkan nurani dari jurnalismenya.

Media seharusnya menjadi jembatan pengetahuan, bukan jurang yang memisahkan. Mereka mempunyai kuasa untuk membentuk opini publik, tapi juga mempunyai kewajiban untuk menjaga kebenaran. Ketika media lalai terhadap etika, maka masyarakat yang menjadi korban pertama.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X