Hari ini, banyak santri dan masyarakat menyerukan #BoikotTrans7. Tapi lebih dari sekadar boikot, seharusnya ini menjadi pelajaran bahwa di balik setiap tayangan, ada tanggung jawab moral. Di balik setiap kata yang disiarkan, ada hati yang dijaga agar tidak terluka.
Di pesantren, kami diajarkan untuk menutup setiap luka dengan doa, bukan dengan dendam. Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar naif, tapi begitulah pesantren selalu mengajarkan kesabaran, bahkan kepada yang telah menyakiti.
Namun, memaafkan bukan berarti melupakan. Luka ini menjadi pengingat bahwa kehormatan pesantren harus dijaga, bukan hanya oleh santri dan kiai, tapi juga oleh seluruh bangsa. Karena pesantren bukan milik kelompok tertentu, ia adalah bagian dari warisan spiritual Indonesia.
Semoga setelah peristiwa ini, media kita menjadi lebih beretika, lebih berempati, dan lebih memahami makna tanggung jawab sosial. Karena kebebasan berbicara tanpa kesadaran moral hanya akan melahirkan kebisingan, bukan kebenaran.***
*Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Ketua Komisariat PMII Undar Jombang.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Wujud Permintaan Maaf Secara Nyata, Trans7 Berjanji Siarkan Tayangan Edukatif Pesantren Tepat di Hari Santri Nasional
Protes Tayangan Trans7, Kelompok Jamiyah Jaosan di Indramayu Gelar Sholat Jenazah, Netizen: Kalau Mau Negur...
Habib Jafar Soroti Tayangan Trans7 Soal Pesantren, Singgung Tradisi hingga Minta Media dan Para Santri Lakukan Ini