Selasa, 21 Juli 2026

Ketika Layar Televisi Melukai Hati Santri

Photo Author
Tim Redaksi Sketsa Nusantara, Sketsa Nusantara
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 08:35 WIB
Nasilatul Ikhtiyari Assyarqawi (dok. SketsaNusantara.id)
Nasilatul Ikhtiyari Assyarqawi (dok. SketsaNusantara.id)

Hari ini, banyak santri dan masyarakat menyerukan #BoikotTrans7. Tapi lebih dari sekadar boikot, seharusnya ini menjadi pelajaran bahwa di balik setiap tayangan, ada tanggung jawab moral. Di balik setiap kata yang disiarkan, ada hati yang dijaga agar tidak terluka.

Baca Juga: 7 Teh Asli Khas Indonesia dari Berbagai Daerah, Terbuat dari Beras hingga Kulit Lidah Buaya, Kaya akan Manfaat bagi Tubuh

Di pesantren, kami diajarkan untuk menutup setiap luka dengan doa, bukan dengan dendam. Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar naif, tapi begitulah pesantren selalu mengajarkan kesabaran, bahkan kepada yang telah menyakiti.

Namun, memaafkan bukan berarti melupakan. Luka ini menjadi pengingat bahwa kehormatan pesantren harus dijaga, bukan hanya oleh santri dan kiai, tapi juga oleh seluruh bangsa. Karena pesantren bukan milik kelompok tertentu, ia adalah bagian dari warisan spiritual Indonesia.

Semoga setelah peristiwa ini, media kita menjadi lebih beretika, lebih berempati, dan lebih memahami makna tanggung jawab sosial. Karena kebebasan berbicara tanpa kesadaran moral hanya akan melahirkan kebisingan, bukan kebenaran.***

*Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Ketua Komisariat PMII Undar Jombang.

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X