Minggu, 19 Juli 2026

Asuransi Nasional Diterpa Tantangan Global, IFG Ungkap Laba Melonjak dan Siapkan Forum Bahas Masa Depan Industri

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 2 Agustus 2025 | 06:00 WIB
Gedung Perusahaan Indonesia Financial Group. (Dok. IFG)
Gedung Perusahaan Indonesia Financial Group. (Dok. IFG)

SketsaNusantara.id - Industri asuransi Indonesia saat ini berada dalam fase penuh tantangan. Ketidakpastian global, tekanan inflasi yang terus berlanjut, dan tren peningkatan klaim membuat sektor ini harus bekerja ekstra keras.

Namun di tengah tekanan tersebut, justru terlihat potensi pemulihan dan penguatan fondasi industri.

Indonesia Financial Group (IFG), holding BUMN yang membawahi sektor Asuransi, Penjaminan, dan Investasi, menilai momentum ini dapat menjadi titik balik untuk membangun sistem keuangan nasional yang lebih tangguh dan terintegrasi.

Baca Juga: IFG Soroti Risiko dan Solusi Asuransi Nasional 2025, Peran Media dan Riset Jadi Kunci Transformasi

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji mengatakan bahwa saat ini industri asuransi menunjukkan kapasitas adaptasi yang cukup baik.

"Industri asuransi jiwa dan umum pada saat ini menunjukkan bahwa sektor ini mampu beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi, penyesuaian model bisnis, serta penyesuaian terhadap kebutuhan konsumen yang terus berkembang," tutur Denny.

Dalam laporan kinerja kuartal pertama 2025, IFG mencatat bahwa industri asuransi jiwa mengalami pertumbuhan premi bruto sebesar 1,5% secara tahunan (YoY) menjadi Rp40,68 triliun. Pertumbuhan ini didorong terutama oleh premi lanjutan. Sementara itu, klaim asuransi jiwa justru menurun sebesar 14,1% YoY.

Baca Juga: IFG dan BUMN Dukung Peran Karyawan sebagai Employer Branding, Workshop di Balikpapan Ungkap Rahasia ini

Penurunan klaim tersebut utamanya terjadi karena merosotnya klaim penebusan unit dari Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI), yang tercatat turun hingga 28,6% YoY. Kombinasi antara kenaikan premi dan turunnya pembayaran klaim mendorong laba bersih industri asuransi jiwa setelah pajak menjadi Rp5,3 triliun, atau melonjak 132% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, situasi berbeda terjadi di sektor asuransi umum. Pada periode yang sama, pendapatan premi justru mencatatkan sedikit penurunan sebesar 0,04% YoY. Di sisi lain, klaim meningkat sebesar 4,5% YoY, menekan kinerja keuangan industri.

Baca Juga: IFG Bicara ESG dan Masa Depan Ekonomi Indonesia, Ini Sorotan dari Konferensi Nasional Akuntan Manajemen IAMI di Jakarta

Penurunan pendapatan premi disebabkan oleh pelemahan di lini properti, kendaraan bermotor, dan suretyship. Sementara kenaikan klaim terutama disumbang oleh asuransi properti dan asuransi kredit.

Denny menilai, meskipun industri mulai bangkit, masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Sektor ini belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi dan masih menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Namun, ia menekankan pentingnya peran asuransi dalam sistem ekonomi nasional yang berkelanjutan.

"Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, industri asuransi dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga untuk memperluas kontribusinya dalam mendukung sistem ekonomi nasional yang terintegrasi," tegas Denny.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X