Minggu, 19 Juli 2026

Konten Kreator Ini Jelaskan Kasus Tom Lembong Pakai Bahasa Dapur, Publik Auto Ngerti

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Kamis, 24 Juli 2025 | 13:30 WIB
Sosok Sandi Sukron yang menjelaskan kasus Tom Lembong dengan bahasa bayi. (Instagram/sandissukron)
Sosok Sandi Sukron yang menjelaskan kasus Tom Lembong dengan bahasa bayi. (Instagram/sandissukron)

 

SketsaNusantara.id – Kasus Tom Lembong yang menyeret namanya dalam polemik pembelian gula impor terus jadi bahan perbincangan.

Namun, bukan hanya fakta hukum yang menarik perhatian, melainkan bagaimana publik memahaminya lewat konten ringan namun mengena.

Salah satu yang menonjol adalah video dari akun Instagram @sandissukron yang menjelaskan kasus ini menggunakan analogi dapur keluarga.

Baca Juga: Sindir Netizen, Ferry Irwandi Posting Pernyataan Mahfud MD Usai Putusan Vonis Tom Lembong: Kasih ke Orang yang...

Dalam video berdurasi kurang dari satu menit itu, Sandi Sukron menyederhanakan persoalan gula impor menjadi cerita keseharian: stok gula menipis, izin ke “pemimpin dapur”, dan tuduhan bekerja sama dengan minimarket.

Narasinya dibumbui istilah seperti “pemimpin dapur” (ibu/bapak), “warung langganan habis”, hingga keputusan “inisiatif” si anak beli lebih banyak gula agar stok aman. Semua dikemas dengan bahasa santai, bahkan disebut sebagai “bahasa bayi”.

Video ini menganalogikan Tom Lembong sebagai anak rumah tangga yang inisiatif membeli gula tambahan agar persediaan cukup, setelah mendapat izin dari “pemimpin dapur” saat itu.

Baca Juga: Kabar Kehamilan Erika Carlina dan Rumor Perselingkuhan Iris Wullur Bikin Heboh di Tengah Putusan Vonis Tom Lembong, Warganet Curiga Ada Pengalihan Isu

Namun, saat kepemimpinan berganti, keputusan itu malah dipertanyakan. Ia pun dituduh bekerjasama dengan minimarket untuk kepentingan pribadi, meski tak ada bukti pelanggaran.

“Kalau dibilang merugikan negara, udah pasti merugikan negara. Tapi belum bisa disebut koruptor,” ujar si kreator dalam video. Tak berhenti di situ, ia menambahkan dengan nada tajam, “Yang dapet gelar koruptor tuh ada yang lebih pantas. Cuman belum terindak aja.”

Kalimat ini menyiratkan kritik terhadap proses hukum yang dianggap publik tidak adil atau tebang pilih. Netizen pun merespons video ini dengan antusias, mengapresiasi gaya penyampaian yang sederhana namun mengena.

Banyak komentar warganet di kolom video yang menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini efektif menyampaikan isu kompleks. Berikut beberapa komentar yang mewakili reaksi publik:

“Udah dibantu pake bahasa bayi. Kalo masih dibalas ‘dasar anak abah’ atau ‘sakit hati ga sembuh2’, patut dipertanyakan akal sehatnya," tulis komentar dari @btarianjani

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X