Titik balik nasib para anggota KWT Sri Mandiri pun terjadi saat mereka mulai menjalin kemitraan dengan ritel modern hingga akhirnya kini produk olahan ubi jalar miliknya dapat ditemukan di lebih dari 1.400 gerai minimarket di wilayah Cirebon hingga Brebes.
KWT Sri Mandiri kemudian mulai merambah pasar internasional seperti ke Malaysia hingga Korea.
Namun saat pandemi Covid-19 melanda, pemasaran lebih difokuskan pada wilayah Jabodetabek dan Cirebon.
Keberadaan KWT Sri Mandiri bukan hanya berdampak pada perekonomian setempat tapi juga membawa perubahan sosial.
Kini perempuan yang dulunya hanya mengurus rumah, bisa memiliki penghasilan sendiri.
“Kami bukan hanya mencari uang, tapi juga ilmu dan kebersamaan. Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan punya kekuatan untuk bertahan dan berkembang,” ungkap Hayanah.
Sebagai klaster usaha, KWT Sri Mandiri mendapatkan pinjaman awal dari BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2010.
Setelah mendapatkan KUR, Hayanah mampu mengembangkan usahanya ke skala yang lebih besar.
KUR yang diberikan BRI digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi termasuk pembelian mesin dan pembangunan fasilitas.
Selain KUR, KWT Sri Mandiri juga mendapatkan bantuan dari BRI Peduli pada tahun 2022.
Bantuan tersebut berupa mesin pengolahan tepung dengan kapasitas 40 kilogram.
Bantuan tersebut meningkatkan produksi makanan olahan ubi jalar milik KWT Sri Mandiri.
Hayanah pun berterima. kasih dan berpesan kepada seluruh perempuan di Indonesia untuk berani melangkah ke dunia usaha.
Artikel Terkait
Jeruk Gerga Curup Jadi Primadona Bengkulu Berkat Dukungan Program Klaster BRI
BRI dan Perempuan Tapanuli Bangkitkan Ekonomi Lewat Klaster Tenun, Sukses Ekspor Produk ke Luar Negeri
Kisah Sukses Pengusaha Profil Beton, Kembangkan Usaha dengan Modal dari BRI dan Miliki 47 Karyawan
Minimarket Lokal Ditutup, UMKM Terancam! Yayasan Langgar Art Desak Audiensi ke Bupati Banyuwangi
Gelar Haflah Akhirussanah, Siswa SMA Islam Sidoarjo Diwisuda Orangtua Masing-masing