SketsaNusantara.id – Pengalaman pahit pernah menimpa pada diri Sudarmaji (57). Pada tahun 2019, kondisi ekonomi warga Dusun Losari, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo, Jombang ini sedang terpuruk.
“Saya mengalami kerugian luar biasa saat membuka warung, Mas. Di tambah lagi tagihan di sana sini atas pinjaman keluarga saya,” kata Sudarmaji akhir pekan lalu.
Mengalami hal itu ia lantas Sudarmaji banting setir dari penjual berbagai menu masakan nasi dengan menjual es dawet sagu. “Usaha warung satu-satunya bersama istri saya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Padahal itu setelah saya menambah menu masakan dan memperbaiki warung,” kata dia.
Baca Juga: Kisah Sukses Pengusaha Profil Beton, Kembangkan Usaha dengan Modal dari BRI dan Miliki 47 Karyawan
Dari kondisi tersebut, ia bertekat bulat untuk menutup usaha yang menjadi sandaran ekonomi keluarga selama ini. Agar dapat meneruskan roda perekonomian keluarga, saat itu ia memiliki ide untuk berjualan es dawer sagu.
Sebagai modal usaha, di tahun 2020 ia mengajukan pinjaman ke BRI kantor unit Gudo. “Saat itu saya menerima pinjaman dari BRI Rp 50 juta,” kata Sudarmaji.
Uang tersebut, terang dia, digunakan untuk modal usaha barunya menjual es dawet sagu. Mulai dari pembelian bahan baku dan peralatan yang menjadi kebutuhan untuk berjualan es dawet sagu. Selain itu, ia juga membeli mobil bekas layak pakai. Oleh Sudarmaji dimodifikasi sesuai kebutuhan untuk berjualan.
“Waktu itu saya membeli dengan harga Rp 10 juta rupiah. Mobil ini memang mobil tua, namun masih layak digunakan. Saya modifikasi untuk rombong berjualan,” terang dia saat ditemui ditempat jualannya di jalan raya menuju kompleks makam Gus Dur, Desa Cukir, Diwek, Jombang.
Selain membeli berbagai kebutuhan dagangannya, Sudarmaji mengaku sebagian uang yang diterima dari BRI juga untuk menutup hutang-hutang keluarganya.
“Biar saya tidak pusing, Mas. Hutang-hutang yang ada di mana-mana itu biar dijadikan satu saja,” ungkapnya.
Usahanya berjualan es dawet sagu tersebut sesuai harapan, omset per hari tertinggi yang diterimanya mencapai Rp 1,2 juta. Tapi, cerita Sudarmaji kalau sedang sepi ia hanya menerima Rp 200 ribu per hari.
Jika tidak habis, sebagian bahan didaur ulang dan dimanfaatkan kembali oleh Sudarmaji. Seperti santan yang diolah lagi menjadi minyak goreng. Oleh Sudarmaji, minyak goreng hasil olahan dari santan tersebut dijual lagi dengan harga 15 ribu untuk ukuran 600 ml.
Artikel Terkait
Perjuangan Suryani dari Warung Pinggir Jalan ke Toko, Sukses Beromzet Rp500 Ribu per Hari Berkat Pendanaan KUR BRI dan PNM Mekaar
Siapkan Dana Rp3 Triliun, BRI Lakukan Buyback untuk Tingkatkan Kepercayaan Investor dan Keberlanjutan Kinerja Jangka Panjang
Berkat Program BRI, Usaha Kue Rumahan Ini Sukses Tembus Pasar Digital dan Raup Omzet Berkali Lipat