SketsaNusantara.id – Dusun Karanggebang, Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Jombang merupakan desa penghasil tikar berbahan daun pandan. Tanaman pandan berduri yang tumbuh liar oleh warga dimanfaatkan dengan cara dianyam dan menjadi tikar yang bernilai ekonomi.
Per lembarnya, ukuran 80 x 120 cm tikar daun pandan tersebut dapat terjual dengan harga Rp 20 ribu.
Harga tersebut terbilang murah. Sebab, proses pembuatannya memakan waktu yang lama.
Melihat kondisi seperti ini, Nurhadi (34) berinisiatif membuat kerajinan anyaman yang bernilai lebih. Awal 2020, ia bersama istrinya, Idna Dea Puspita (30) mendirikan Anya Craft. Nurhadi mengatakan, Anya Craft didirikan dengan tujuan untuk pemberdayaan para pengrajin anyaman daun pandan agar memiliki penghasilan lebih.
Dengan alasan ekonomi, Anya Craft direspon cepat oleh para pengrajin yang merupakan tetangga Nurhadi. “Pengrajin saya mencapai 127 orang. Awalnya hanya 3 orang pengrajin,” kata Nurhadi.
Ia menceritakan, puluhan pengrajin di desanya mengeluh karena usaha penjualan tikar mereka berhenti. Melihat fenomena ini, Nurhadi bersama istri kemudian mendirikan Anya Craft. “Waktu itu produk pertama kita adalah sandal hotel berbahan daun pandan. Kita pasarkan melalui media WA, facebook,” kata Nurhadi.
Produk tersebut juga dipasarkan melalui teman yang memiliki jaringan dengan hotel maupun resort. Saat itu, melalui teman tersebut produk pertamanya laku di hotel maupun resort yang ada di Bali dan Lombok.
Baca Juga: BRI Dukung UMKM Kebumen: Agrominafiber Handicraft Ekspor Produk Ramah Lingkungan
“Namun karena terkena dampak pandemi Covid 19, hotel maupun resort sepi. Akhirnya berdampak ke produk kita,” ungkap Nurhadi.
Dari pengalaman tersebut, Nurhadi bersama istri lantas mencari peluang dengan membuat kerajinan tas keranjang. Produk kedua Anya Craft ini lantas disambut baik oleh pelanggan.
“Ada lembaga zakat di Jombang langsung memesan sebanyak 5 ribu buah. Semua desain dari pemesan, kita hanya mengerjakan. Waktu itu masih punya 3 pengrajin saja dan harus selesai dalam waktu tiga minggu,” katanya.
Idna, istri Nurhadi kemudian meminta 3 pengrajin tersebut untuk mengajari para tetangga sesama pengrajin untuk menganyam daun pandan menjadi tas. “Saya minta 3 pengrajin saya untuk mengajari tetangganya. Dari situ pengrajin Anya Craft terus bertambah. Karena mereka bisa membandingkan penghasilan antara menganyam tikar dan menganyam tas. Lebih menguntungkan membuat tas,” ujar Idna.
Baca Juga: Dari Solo untuk Dunia! UMKM Kopi Serius Pangan Nusantara Sukses Go Global Berkat Pemberdayaan BRI
Artikel Terkait
Kisah Sukses Peternak Ikan Air Tawar Bermitra dengan BRI
Pertahankan UMKM Olahan Mamin, Suyanto: BRI Langkah Solutif Dukung Kami
BRI Wujudkan Petani di Jombang Raup Keuntungan Berlebih dengan Menanam Buah Melon