SketsaNusantara.id – Dukungan permodalan menjadi kebutuhan dasar selain proses produksi suatu barang. Produksi barang tentu tidak terlepas dari alat penunjang yang peralatan tersebut didapat dengan menggunakan permodalan.
Namun, dalam mendapatkan permodalan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak asal mendapatkannya. Harus selektif.
Demikian hal penting yang terus muncul dalam pikiran Suyanto (46) dan istrinya, Ani Muslimah (44). Sejak mengawali usahanya di bidang produksi olahan makanan minuman (mamin) pada 2015, ia merasakan telah mampu menggerakkan putaran perekonomian keluarga dengan memanfaatkan rempah-rempah (jahe, kunyit, jahe merah, temu lawak, kelor, kencur, susu ettawa campur jahe, kunir asam sinom).
Produk olahan tersebut mampu menarik perhatian konsumen untuk dinikmati.
Bahan rempah-rempah sebagai bahan utama olahan mamin itu, didapatkan dari lingkungan sekitar yang merupakan daerah pegunungan. Namun, jika kekurangan bahan baku, Yanto membeli bahan-bahan tersebut ke Pasar Agro yang ada di Pare, Kediri.
Baca Juga: Program Klasterku Hidupku, Bentuk Dukungan BRI Terhadap Pelaku Usaha Berbagai Jenis Kategori
“Kebutuhan keuangan saat saya mengawali usaha ini tidak ada persoalan. Justru saya harus berpikir keras ketika penerimaan pendanaan yang pertama, bunga banknya terlalu besar. Masa penyelesaian kredit waktu itu 3 tahun dengan sistem setiap bulan membayar,” ujar Suyanto mengawali perbincangan saat ditemui di rumahnya, Dusun Segunung, Carangwulung, Wonosalam, Jombang, awal bulan ini.
Suyanto dan istri lantas mencari langkah solutif untuk mengambil keputusan akses pendanaan yang bakal didapatkan lagi. Meski pernah terpikir menjadi kendala karena bunga bank tinggi, kredit pertama yang ia terima menjadi hal penting untuk mendapatkan kredit bank berikutnya. Tentu dengan bunga menyesuaikan penghasilannya sebagai pendatang baru pelaku UMKM.
“Akhirnya saya menerima kredit dari BRI setelah kredit pertama di lain bank selesai. Saat itu tahun 2020,” ucap Yanto, sapaan akrabnya.
Yanto mengaku, pada pertengahan 2018, ia bersama istri tidak memiliki prioritas BRI sebagai mitra utama dalam mencari pendanaan sebagai kebutuhan penting membesarkan UMKM yang dikelolanya. Dirinya merasakan, awal mula mengakses BRI seperti kebetulan.
“Saat itu saya hanya berpikir yang penting dapat pinjaman dari bank dengan bunga rendah. Karena saat pertama kali mencari pinjaman yang bunganya rendah sulit. Jangankan yang bunga rendah, pinjaman dengan bunga normal saja sulit,” kisahnya.
Diceritakan, ada konsumen berkunjung ke rumahnya yang juga tempat produksi sekaligus toko hasil olahan makanan dan minuman untuk membeli produknya.
Secara geografis, rumah Suyanto merupakan daerah pegunungan yang terletak di sebelah timur-selatan Kabupaten Jombang. Desa tempat tinggal Suyanto merupakan perbatasan dengan wilayah Kabupaten Kediri.
Artikel Terkait
I Love Mutiara Tembus Kapal Pesiar, UMKM Lombok Ini Sukses Ekspor Berkat BRI dan Raup Omzet Ratusan Juta hingga Jutaan Dolar
Songket Silungkang Go Global, Strategi UMKM Binaan BRI Tembus Ekspor dan Majukan Ekonomi Lokal Lewat Digitalisasi
12 Tahun Jadi Mantri BRI, Perjuangan Nuraini di Lombok Ini Tunjukkan Sosok Kartini Masa Kini yang Tak Takut Tantangan