Sabtu, 18 Juli 2026

Dukung ke Pasar Internasional, BRI Support Pendanaan Produksi Manik-manik Jombang

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Senin, 31 Maret 2025 | 21:35 WIB
Suloso menunjukkan hasil kerajinan manik-manik di galeri miliknya, Desa Plumbongambang, Gudo, Jombang.  (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Suloso menunjukkan hasil kerajinan manik-manik di galeri miliknya, Desa Plumbongambang, Gudo, Jombang. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id – Sentra kerajinan manik-manik di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Jombang menjadi primadona bagi warga setempat untuk menopang perekonomian. Meski demikian, pengrajin UMKM yang memanfaatkan limbah kaca ini mengalami pasang surut pengrajin.

Dari 30 rumah produksi, kini tinggal 26 rumah produksi yang masih konsisten melayani konsumen dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Salah satu UMKM pengolah kaca menjadi perhiasan ini yang masih eksis hingga sekarang adalah Suloso. Pemilik rumah produksi manik-manik UD Griya Manik ini mengaku, untuk bisa bertahan dalam bisnis ini ia terus mengikuti kemauan pasar.

 Baca Juga: UMKM Wewangian Binaan BRI Siap Ekspor, SWR Targetkan Pasar Global di 2026

“Kemauan pasar terhadap hasil manik manik sangat berfariasi dan terus berkembang. Saya mempertahanka itu,” katanya kepada SketsaNusantara.id, Minggu 30 Maret 2025.

Sejak ia mengawali usahanya di tahun 2000, perkembangannya terus mengalami peningkatan. Selain memperhatikan keindahan manik-manik yang dikerjakan, strategi pemasaran juga tidak kalah penting.

“Dalam memasarkan produk manik-manik harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak maka akan kalah bersaing dengan lainnya,” terangnya.

Lantas, bagaimana dengan dukungan dari pihak luar. Suloso menandaskan, Desa Plumbongambang merupakan desa binaan dari BRI. “Secara kelembagaan desa, di sini memang binaan dari BRI. Namun secara pribadi saya juga dapat dukungan keuangan dari BRI,” ucapnya.

 Baca Juga: Dari Jepara ke Lima Benua! Inilah Kisah Inspiratif Perjalanan Els Artsindo Menaklukkan Pasar Mebel Dunia Lewat BRI UMKM EXPO(RT) 2025

Sejak mengawali usahanya di tahun 2000, omset hasil penjualan manik-manik hanya mencapai Rp 3 sampai 5 juta. Suloso mengaku, pemasaran waktu itu hanya di regional saja. Mulai dari Surabaya, Malang, dan Kediri.

Setelah itu dia mencoba untuk memperluas pemasaran di tingkat nasional. “Saat itu saya menjual ke Kalimantan dan Bali,” terang Suloso.

Saat memasarkan ke Kalimantan dan Bali, dia langsung membawa barang ka daerah tersebut.

“Waktu itu belum ada model pemasaran seperti ini. Langsung saya tawarkan ke pedagang-pedagang aksesoris yang ada di Bali. Antusias pedagang di sana cukup bagus. Bahkan ada pedagang yang semula menjual sepatu beralih ke manik-manik. Awalnya mereka mencoba sedikit. Karena respon konsumen bagus, mereka lantas beralih barang dagangan,” ceritanya.

 Baca Juga: BRI Dorong UMKM Papua Global Spices Tembus Pasar Internasional, Ini Rahasianya!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X