SketsaNusantara.id - Jurnalis kembali menjadi korban kekerasan aparat saat meliput di lapangan.
Beberapa jurnalis yang meliput aksi demonstrasi di sejumlah kota mengalami tindak kekerasan dan intimidasi dari aparat kepolisian.
Insiden ini dialami oleh 2 orang jurnalis yang tengah meliput aksi unjuk rasa yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
2 Jurnalis tersebut tak hanya diintimidasi, namun juga diseret hingga dipukul oleh aparat kepolisian.
Menanggapi kejadian tersebut, Aliansi Jurnalis Independen atau AJI Surabaya pun mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan aparat terhadap jurnalis.
Melalui akun X AJI Indonesia @AJIIndonesia, Ketua AJI Surabaya Andre Yuris menilai polisi tidak paham tugas jurnalis.
“Tindakan polisi tersebut membuktikan bahwa polisi tidak paham tugas jurnalis,” tuturnya seperti dikutip SketsaNusantara.id dari akun X @AJIIndonesia.
Yuris juga menambahkan, tindak kekerasan yang dilakuka aparat terhadap jurnalis yang tengah bertugas juga melanggar Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
Dalam Pasa 4 Ayat (3) UU Pers menyebutkan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
Sedangkan dalam Pasal 18 UU Pers, disebutkan bahwa setiap orang yang secara sengaja menghambat atau menghalangi jurnalis saat melaksanakan tugas jurnalis dapat dipidana 2 tahun penjara atau denda maksimal Rp500 juta.
Artikel Terkait
Demo di Jember Hari Ini, Seruan Aksi Tolak UU TNI Viral di Media Sosial, Berikut 8 Tuntutan Demonstran kepada Pemerintah dan DPRD Jember
Demo Tolak UU TNI di Depan Gedung Grahadi Surabaya, Polisi Diduga Tembaki Massa Aksi dengan Water Cannon hingga Lakukan Penculikan
Selain Tembakkan Water Cannon dan Lakukan Penculikan, Ponsel Sejumlah Massa Aksi di Surabaya Juga Diretas
BRINGAS! Polisi Tendang Dada hingga Kepala Pendemo Tolak RUU TNI di Surabaya, Padahal Jalan Korban Sudah Pincang
Ramai Istilah Geng SOP di Balik Revisi UU TNI, Disebut Jadi Jebakan untuk Presiden Prabowo CS, Siapa?