Sebelum mengajukan pinjaman, ia terlebih dahulu mencari info apakah ada tanah sawah yang dijual. Saat ada tanah sawah dijual, tanpa pikir panjang ia langsung mengajukan pinjaman ke BRI Kantor Unit Perak. “Begitu ada sawah dijual, saya cepat-cepat ke BRI Perak,” ucap Segerudin.
Dia mengaku, pelayanan yang didapat juga sesuai harapan, cepat cair. Begitu uang diterima ia langsung melakukan negosiasi pembelian sawah kepada pemiliknya. “Kalau harganya deal, uang pinjaman dari BRI langsung saya bayarkan. Saya tidak berani memakai uang tersebut untuk kebutuhan lainnya. Takut tidak rupa (tidak ada wujudnya, red),” tuturnya.
Segerudin mengaku, pinjaman dari BRI tersebut ia angsur menggunakan sistem musiman. Dalam satu tahun ia harus membayar angsuran sebanyak 3 kali. “Setiap 4 bulan sekali, pada saat panen tiba saya harus mengangsur ke BRI. Alhamdulillah, sawah saya dapat ditanami padi sepanjang musim. Jadi hasilnya cukup untuk mengangsur pinjaman BRI. Irigasi di sini memang lancar, sehingga hasil padi yang saya tanam hasilnya memuaskan,” ceritanya.
Merasa berhasil pada pinjaman yang pertama, Segerudin berpikir ingin kembali meminjam ke BRI guna menambah aset berupa tanah sawah. Kebetulan, tandas dia, pihak BRI menawarinya untuk meminjam. “Mungkin BRI menilai, angsuran yang kami bayarkan tidak ada kendala,” tuturya.
Di tahun 1993, tanah sawah Segerodin kembali bertambah. Ia membeli lagi sawah seluas 1.400 m2 seharga Rp 1.450.000 milik tetangganya. Seperti sebelumnya, untuk membeli sawah tersebut ia kembali mengajukan pinjaman ke BRI.
Tak berhenti di situ, tahun 2003, Segerodin kembali membeli sawah dengan luas yang sama seharga Rp 11.500.000. Lagi-lagi ia memanfaatkan pinjaman ke BRI.
Namun, dari pinjaman kedua dan ketiga tersebut ia lupa berapa nilai pinjaman yang ia terima. “Lupa saya. Kalau yang pertama sangat ingat, maklum pertama kali dapat pinjaman dari BRI,” jelasnya.
Aset tanah sawah Segerodin ditambah lagi pada tahun 2016. Ia membeli sawah seharga Rp 49.000.000 dengan luasan 900 m2. “Kalau yang ini saya pinjam KUR BRI Rp 50.000.000,” katanya.
Semua pinjaman yang didapat dari BRI ia bayar dengan cara mengangsur setiap musim panen, 4 bulan sekali.
Kepala BRI Cabang Jombang Effendi Sudarso menjelaskan, pihaknya memfasilitasi semua lapisan masyarakat ketika mengakses pinjaman ke bank. Dijelaskan, BRI saat ini memiliki program klasterku hidupku. Melaui program tersebut, tambahnya, merupakan bentuk dukungan BRI terhadap program prioritas pemerintah, yakni Asta Cita.
“Program tersebut bertujuan untuk melayani keuangan bagi masyarakat yang mengajukan kredit ke BRI dalam rangka untuk pengembangan usaha. Mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, industri pengolahan, jasa-jasa dan lain-lain,” pungkas Sudarso.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
BRI Perkuat Prinsip ESG: Inisiatif Ramah Lingkungan dan Keuangan Berkelanjutan
Berkah Ramadhan, Omset Pengusaha Kosmetik Binaan BRI di Malang Meningkat Pesat hingga 40 Persen
Nikmati Kecepatan Layanan Keuangan, KPU Jombang Kembali Gandeng BRI dalam Pelaksanaan Pilkada 2024