SketsaNusantara.id – Bagi warga desa, memiliki sawah yang luas merupakan kebanggan tersendiri. Sebab, mayoritas mata pencaharian mereka adalah sebagai petani. Semakin luas sawah yang dimiliki, maka dalam memenuhi kebutuhan keluarga semakin leluasa.
Hal ini dirasakan Segerodin (73) warga Desa Barongsawahan, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang ini. Kini, ia mengelola sawah miliknya sendiri seluas 7.900 m2.
Ia mengaku, selain hasil kerjanya, ia juga memanfaatkan pinjam ke BRI untuk membeli aset tanah sawah. Sejak tahun 1986, ia sudah mengenal BRI sebagai mitra keuangan ada keperluan yang membutuhakan anggaran besar. “Waktu itu saya mendapat pinjaman Rp 2.500.000,” kenangnya.
Baca Juga: UMKM Naik Kelas! Gula Aren Temon Pacitan Menembus Pasar Global Berkat Dukungan BRI
Segerudin bercerita, beberapa puluh tahun silam ia tidak menyangka bakal memiliki tanah sawah seluas itu. Namun, saat mengawali menjadi petani ia berkeinginan kuat untuk memiliki sawah yang luas.
“Hidup di desa, Mas. Kalau sawah kita luas, kita merasa tenang. Selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hasilnya juga bisa dibuat untuk bekal ibadah,” ungkap Segerudin saat ditemui di rumahnya, Minggu, 23 Maret 2025.
Segerudin melanjutkan, profesi yang ia geluti semasa muda adalah sebagai tukang bangunan. Saat itu, kata dia, tidak tertarik sama sekali pada dunia pertanian.
“Dulu saya sebagai tukang bangunan yang pekerjaannya melayani jasa pembangunan segala macam konstruksi. Terutama bangunan gedung rumah,” ujarnya.
Namun lambat laun ia mulai sadar, tidak selamanya tenaga yang sudah mulai dimakan usia dapat bekerja pada bidang konstruksi bangunan. “Saat itulah saya mulai berpikir, petani adalah pekerjaan yang menjanjikan. Pertimbangan lain, keempat anak saya yang sudah mulai besar saya rasakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dengan hanya bekerja sebagai tukang bangunan,” kenangnya.
Namun, katanya, untuk membeli sawah juga dibutuhkan memiliki uang yang tidak sedikit. Menurutnya, mustahil bisa membeli sawah hanya dengan bekerja sebagai tukang bangunan. Sebab, pekerjaan tersebut tidak setiap hari ada. “Namanya orang membangun rumah kan tidak setiap saat ada. Apalagi tukang bangunan juga banyak. Jadi kadangkala saya nganggur,” ujar Segerudin.
Atas pertimbangan itulah, pada tahun 1986 ia memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke BRI. Ia mengaku, dipilihnya BRI karena tempatnya dekat. Di samping itu, katanya, dari informasi yang dia terima, bunga pinjaman yang ada di BRI masih dinilai rendah. “Pertama kali saya membeli sawah seharga Rp.1.200.000 dengan luas banon 300 (4.200 m2). Sementara, saya hanya mendapat pinjaman dari BRI Rp 2.500. Kekurangannya sangat banyak,” katanya.
Segerodin akhirnya menjual semua hewan ternaknya untuk menutupi pembelian sawah tersebut.
Artikel Terkait
BRI Perkuat Prinsip ESG: Inisiatif Ramah Lingkungan dan Keuangan Berkelanjutan
Berkah Ramadhan, Omset Pengusaha Kosmetik Binaan BRI di Malang Meningkat Pesat hingga 40 Persen
Nikmati Kecepatan Layanan Keuangan, KPU Jombang Kembali Gandeng BRI dalam Pelaksanaan Pilkada 2024