Sabtu, 18 Juli 2026

Kantor Tempo Jadi Sasaran Teror Kiriman Kepala Babi hingga Bangkai Tikus, Rocky Gerung: Si Peneror Juga Ketakutan

Photo Author
Wilda Wijayanti, Sketsa Nusantara
- Senin, 24 Maret 2025 | 07:27 WIB
Rocky Gerung menilai kiriman kepala babi pada kantor Tempo adalah bentuk politik paling dangkal.  (Tangkap layar YouTube.com/Indonesia Lawyers Club)
Rocky Gerung menilai kiriman kepala babi pada kantor Tempo adalah bentuk politik paling dangkal. (Tangkap layar YouTube.com/Indonesia Lawyers Club)

SketsaNusantara.id - Akademisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung menyatakan bahwa insiden pengiriman kepala babi ke kantor Tempo melebihi apa yang dapat dibayangkan oleh publik.

Rocky menyebut, taktik intimidasi tersebut sebagai cara berpolitik yang dangkal.

“Bisa saya simpulkan bahwa teror itu adalah bentuk kepengecutan, apalagi dalam politik,” ucap Rocky dikutip SketsaNusantara.id dari Youtube-nya, pada Senin, (24/3).

Baca Juga: Aktivis HAM Sumarsih Datangi Jurnalis Tempo yang Mendapat Teror Kepala Babi, Singgung Soal Teror Suara Kebenaran

Menurut Rocky, teror adalah bentuk yang paling kasar dari persaingan politik.

Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi ini menilai, teror bermula dari kegagalan berdebat dalam interaksi antarwarga negara.

“Gagal untuk berargumentasi lalu memakai sentimen, gagal memakai sentimen, lalu memakai hoaks, gagal memakai hoaks, lalu memakai teror,” tuturnya.

Baca Juga: Kantor Tempo Diteror Kepala Babi dan Bangkai Tikus, Begini Respon Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Pun masih kata Rocky, teror yang digunakan sangatlah dangkal, yaitu mengirim simbol yang publik tahu, apa artinya babi.

“Kita ingin memperbaiki cara-cara kita berpolitik supaya semacam ada kesetaraan di dalam kehidupan warga negara, ada kesetaraan di dalam kita untuk salin mengapa dengan pikiran, bukan dengan kekerasan,” katanya.

Lebih lanjut Rocky menilai, justru pihak peneror adalah orang yang juga ketakutan, lantaran tidak berani menerangkan argumennya.

Baca Juga: TEMPO TIDAK GENTAR! Usai Diteror Kepala Babi Kini Bangkai Tikus, Bentuk Ancaman Mengerikan yang Mengintai Kebebasan Pers di Indonesia

“Si peneror itu juga orang yang ketakutan sebetulnya, karena dia tidak berani untuk menerangkan dia siapa, argumennya apa, posisi dia di dalam urusan dengan Tempo apa, bagian mana dari Tempo yang menyinggung dia,” ungkapnya.

Rocky menyatakan bahwa pers adalah wilayah yang dihasilkan oleh peradaban demokrasi.

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X