Rabu, 17 Juni 2026

Ngeri! Awan Cumulonimbus Selimuti Jember Disertai Hujan Deras dan Angin Kencang, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Perubahan Cuaca di Awal Peralihan Musim

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 20 Maret 2025 | 07:07 WIB
Momen detik-detik awan cumulonimbus menyelimuti wilayah Jember sebelum diguyur hujan deras dan angin kencang (Instagram/jemberawesome)
Momen detik-detik awan cumulonimbus menyelimuti wilayah Jember sebelum diguyur hujan deras dan angin kencang (Instagram/jemberawesome)

Awan Cumulonimbus diperkirakan akan sering muncul dan menutupi lebih dari 75% wilayah tertentu dalam periode 18-24 Maret 2025.

Wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Samudra Hindia di sebelah selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), Samudra Hindia di sebelah selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Laut Flores.

Baca Juga: Viral! Gorontalo Diguyur Hujan Jeli yang Bikin Heboh Warga, BMKG Ungkap Fenomena Unik Ini Kemungkinan Akibat Dampak Pencemaran Lingkungan

Kehadiran awan ini berpotensi menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan kemungkinan badai di wilayah tersebut.

Awan Cumulonimbus merupakan jenis awan konvektif yang mampu tumbuh vertikal hingga mencapai ketinggian lebih dari 30.000 kaki.

Awan ini sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan dapat menyebabkan perubahan arah serta kecepatan angin secara tiba-tiba, yang berisiko menimbulkan turbulensi dan berbahaya bagi penerbangan.

Selain itu, awan Cumulonimbus dapat menyebabkan angin kencang. Awan ini terbentuk akibat udara hangat dan lembap yang naik dengan cepat ke atmosfer, kemudian mendingin dan membentuk gumpalan awan besar.

Baca Juga: Penjelasan BMKG Soal Fenomena Pusaran Awan Melingkar di Langit Mojokerto yang Viral hingga Bikin Warganet Khawatir, Berbahaya untuk Penerbangan?

Hempasan angin kencang sebelum hujan turun, berpotensi merusak struktur bangunan serta vegetasi dan memicu terbentuknya angin puting beliung.

Keberadaan awan Cumulonimbus ini juga sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, dan badai angin.

Namun, BMKG mencatat bahwa tidak setiap awan Cumulonimbus akan menimbulkan fenomena seperti puting beliung.

Terjadinya puting beliung sangat bergantung pada kondisi labilitas atmosfer saat itu. Meski begitu, keberadaan awan Cumulonimbus tetap harus diwaspadai karena potensi dampak cuaca ekstrem yang dapat ditimbulkannya.

Sementara itu, Kepala BMKG menjelaskan bahwa musim hujan diprediksi akan berakhir pada akhir Maret 2025. Sedangkan pada bulan April diprediksi akan menjadi bulan transisi atau peralihan menuju musim kemarau.***

 

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Instagram @jemberawesome, Instagram @infocuaca_jember

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X