Di bawah kepemimpinannya, Sritex berkembang menjadi salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, menjadi pemasok utama seragam militer untuk NATO dan brand fashion ternama dunia yang produknya diimpor ke lebih dari 30 negara.
Iwan juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Surakarta periode 2018-2023 dan Ketua Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia sejak 2020.
Kepeduliannya terhadap isu-isu pemenuhan hak anak tercermin dalam kebijakan perusahaan yang tidak mempekerjakan anak di bawah umur, menyediakan ruang laktasi, dan klinik bagi anak karyawan PT Sritex.
Namun, perjalanan Sritex tak selalu berjalan mulus. Perusahaan mulai menghadapi tantangan berat ketika utang yang menumpuk, ditambah tekanan industri termasuk dampak pandemi COVID-19 yang pernah melanda Indonesia tahun 2020 lalu, membuat perusahaan tak mampu bertahan.
Iwan Kurniawan Lukminto berjuang keras menyelamatkan Sritex setelah Pengadilan Niaga Semarang menyatakan perusahaan pailit pada tahun 2021 akibat tekanan utang dan dampak pandemi.
Ia berupaya melakukan restrukturisasi keuangan dan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung agar perusahaan tetap bertahan. Dukungan pun datang dari Gibran Rakabuming Raka dan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer, yang berjanji tidak akan ada penutupan pabrik.
Namun, perjuangan tersebut tak membuahkan hasil. Mahkamah Agung tetap menguatkan putusan pailit, memaksa Sritex untuk menjalani proses likuidasi. Meskipun operasional tetap berjalan sementara, tekanan keuangan yang berat membuat perusahaan tak bisa bertahan.
Akhirnya, pada 1 Maret 2025, Sritex resmi tutup permanen. Dalam momen perpisahan sebelum pabrik berhenti beroperasi, Iwan menangis saat mengucapkan salam perpisahan kepada ribuan karyawan yang selama ini jadi bagian dari perjalanan panjang Sritex selama hampir 5 dekade.
Meski kecewa, Iwan harus menerima kenyataan pahit dan berjanji akan tetap mengawal hak-hak pekerja hingga tuntas. Menurutnya, ribuan karyawan Sritex adalah aset yang menjadi penyokong bagi perekonomian negara di masa depan.
"Kurator selama ini membicarakan soal aset, padahal mereka lupa bahwa aset yang paling berharga adalah kita semua. Oleh karena itu, dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terima kasih atas dedikasinya selama ini terhadap perusahaan," ucap Iwan.
"Kekeluargaan ini harus dijaga sampai kapanpun, terima kasih semuanya atas kerja kerasnya," pungkas Iwan dengan suara bergetar yang kemudian tertunduk lesu, tak kuasa menahan air matanya.
Penutupan Sritex juga sangat disayangkan mengingat perusahaan yang berdiri dari nol dan berjaya dengan dukungan pemerintah di masa Orde baru, kini nasibnya memperihatinkan apalagi berdampak pada puluhan ribu karyawan yang kehilangan pekerjaan.
Dengan berakhirnya Sritex, Indonesia kehilangan salah satu ikon besar di industri tekstil. Kendati demikian, perjuangan Iwan tetap menjadi bagian dari sejarah perusahaan yang pernah mendukung perekonomian negara dan jadi kebanggaan Indonesia selama puluhan tahun.
"Kami undur diri... Terima kasih Indonesia. Sritex, Karya Indonesia untuk Dunia (1966-2025)," tulis Iwan dalam dalam postingan terakhirnya di Instagram Sritex Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Perjalanan Sritex, Pabik Tekstil Terbesar di Indonesia yang Dinyatakan Bangkrut, Produsen Seragam Militer 32 Negara
Siapa Pendiri Sritex? Profil HM Lukminto, Raja Batik Pasar Klewer yang Masuk Islam Setelah Mimpi Harmoko
Diresmikan Presiden Soeharto, PT Sritex yang Pailit Sempat Lakukan Perluasan 275 Usaha, Apa Saja?
Bos Sritex Blak-blakan Permendag No 8 2024 Biang Kerok Bangkrutnya Industri Tekstil, Bagaimana Nasib Karyawan?
Fix! PT Sritex Tutup Total per Maret 2025: Ribuan Karyawan Jadi Korban Kampanye Gibran dan Janji Manis Pemerintah