Kamis, 4 Juni 2026

Konten Viral Bikin Kreatif atau Rusak Otak? Waspadai Brain Rot di Era Digital

Photo Author
Dini Nurlina, Sketsa Nusantara
- Rabu, 9 Juli 2025 | 07:00 WIB
Ilustrasi brain rot menyebabkan cognitive overload dan penurunan fokus. (Pexels/Kaboompics )
Ilustrasi brain rot menyebabkan cognitive overload dan penurunan fokus. (Pexels/Kaboompics )

 

SketsaNusantara.id - Fenomena brain rot, yaitu penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan, kini menjadi sorotan.

Dampaknya terutama dirasakan generasi pasca-milenial seperti Gen Z (lahir 1995–2009) dan Gen Alpha (lahir setelah 2010).

Di era digital saat ini, media sosial seolah menjadi sahabat yang tidak terpisahkan, dengan aplikasi seperti TikTok yang menawarkan hiburan instan dan mendorong pengguna untuk terus mencari konten yang seru demi kepuasan.

Baca Juga: 5 Poin Penting terkait Wacana Marketplace Siap Jadi Pemungut PPh, Pemerintah Ubah Skema Perpajakan Digital

Menurut jurnal di PubMed yang dikutip oleh SketsaNusantara.id, brain rot merupakan kondisi kemunduran mental atau intelektual yang diduga dipicu oleh konsumsi konten daring secara berlebihan.

Gejalanya antara lain menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, merasa cemas saat jauh dari perangkat seluler, serta melemahnya kemampuan memberikan perhatian pada aktivitas yang bernilai.

Kecanduan digital ini tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga mempengaruhi cara berpikir dan perkembangan psikologis, terutama di kalangan anak dan remaja.

Baca Juga: Jelang 1 Muharram 1447 H, BRI Pastikan Layanan Perbankan Tetap Aktif Lewat Digital dan Agen

Fenomena ini mulai menjadi perhatian akademisi, salah satunya Dr. Melly Ilmiah Latifah dari IPB University.

Dalam laman resmi IPB, Dr. Melly menjelaskan bahwa di balik kelucuan konten viral seperti manusia berwujud "tung-tung sahur", kopi berkepala balerina, dan hiu memakai sepatu, tersimpan dampak serius terhadap perkembangan kognitif generasi muda.

"Anak-anak belum mampu membedakan fantasi dan kenyataan. Visual hiper-absurd dapat memicu pelepasan dopamin secara berlebihan yang berdampak pada fokus dan emosi," jelasnya.

Baca Juga: Promedia Gelar Mediapreneur Talks di Banten, Ungkap Jurus Bertahan Media Lokal di Tengah Tekanan Digital

Dr. Melly mengungkapkan bahwa bagi remaja, paparan konten absurd secara terus-menerus dapat membentuk pola pikir yang tidak logis.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: pubmed

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X