“Paparan berlebihan menguatkan pola pikir. Semakin tidak masuk akal, semakin menarik. Ini mengurangi kemampuan berpikir sistematis,” ujar Dr. Melly.
Ia juga menambahkan bahwa konten-konten tersebut berpotensi mengikis empati karena seringkali menghilangkan konteks emosional dari suatu peristiwa.
Meski begitu, menurutnya konten absurd tidak sepenuhnya berbahaya jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Dalam kondisi tertentu, jenis konten seperti ini justru dapat merangsang kreativitas dan fleksibilitas berpikir.
Dr. Melly menegaskan bahwa efek dari brain rot dapat menyebabkan cognitive overload, kelelahan mental, dan penurunan fokus.
Pada akhirnya mengganggu proses belajar dan perkembangan emosional generasi muda.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Pemerintah Jelaskan Alasan Memblokir Internet Archive, Ada Alasan Genting terkait Konten Digital
Libur Idul Adha 1446 H, BRI Siapkan Layanan Digital dan Weekend Banking untuk Kenyamanan Bertransaksi
Cerita Agus Sakti, Pemilik Smallframe Jember yang Sukses Ekspor Komponen Vespa ke Luar Negeri Berkat Riset dan Digital Marketing
Menteri Komdigi Minta Platform Asing Dukung Industri Lokal agar Konten Digital Tak Sepenuhnya Bergantung pada Luar Negeri
PMII dan Tantangan Melahirkan Intelektual Muslim di Era Digital