Pasar ini rupanya dibangun sebagai hadiah peringatan kenaikan tahta ke-24 dari para sentana dalem Mangkunenaran kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegaran VII.
Nama triwindu berarti delapat tahun rangkap tiga, yang bertepatan dengan 24 tahun kepemimpinan KGPAA Mangkunegaran VII.
Saat awal dibangun, Pasar Triwindu hanya berupa lahan kecil dengan meja-meja sederhana.
Baca Juga: Tercantum di Serat Centhini, Ini Sejarah Serabi Solo, Kuliner Khas dengan Cita Rasa Gurih Manis
Barang yang dijual pun maish berupa kue-kue tradisional, pakaian, majalan hingga koran.
Lalu pada saat keadaan ekonomi sedang sulit pada masa penjajahan Jepang, banyak bangsawan yang menjual benda-benda antik dan koleksi seni mereka di Pasar Triwindu.
Menariknya, bagi para pegadang di sana, Pasar Triwindu menjadi rumah kedua bagi mereka.
Sangat jarang ditemukan pedagang di Pasar Triwindu yang datang dan pergi.
Mayoritas kios-kios yang ada di Pasar Triwindu merupakan warisan para pedagang terdahulu kepada anak dan cucunya.
Toko barang antik pun menjadi bisnis keluarga yang diwariskan turun temurun.
Pasar Triwindu yang saat ini sudah lebih modern mengalami pemugaran pada tahun 2008.
Pasar yang dulunya hanya terdiri 1 lantai ini dipugar mengikuti arsitektur di sekitar Solo dan dibangun menjadi 2 tingkat.
Saat itu, pasar ini sempat berganti nama menjadi Pasar Windujenar namun pada tahun 2011, kembali ke nama asalnya yakni Pasar Triwindu.***