Mereka adalah Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga.
Tiga sunan berhasil menemukan pohon untuk dibuat sebagai bahan batang kayu, tetapi Sunan Kalijaga terlambat karena dari perjalanan ke pantai selatan.
Namun, Sunan Kalijaga tidak kehilangan akal dan selama proses pembangunan masjid, sisa-sisa potongan kayu yang berserakan dikumpulkan.
Semua sisa-sisa itu lalu dipadatkan, diikat dijadikan satu dengan tali dan simpai besi. Bahkan, tiang buatannya pun tak kalah kokoh dari 3 tiang buatan sunan yang lain.
Dari sejarah penciptaan saka tatal itulah ditafsirkan makna filosofis tentang hakikat rohani dari sebuah benda pusaka nasional.
Ada cita-cita yang mengidamkan sebuah negara di kepulauan Asia Tenggara untuk melindungi segenrap kepercayaan yang rakyatnya bebas memeluk agama atau menjalankan kepercayaan yang diyakini.
Bahkan, Masjid Agung Demak dipugar pada tahun 1980-an menggunakan anggaran negara, serta diresmikan sendiri oleh Soeharto, presiden di masa itu.
Menurut Soeharto, pemugaran itu bukanlah pemborosan uang negara atau kemewahan, tetapi bagian dari pembangunan bangsa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!