Di Pabrik Gula Madukismo sendiri, tradisi Pengantin Tebu tak lepas dari kisah tragis yang konon pernah terjadi.
Dikisahkan, di pabrik yang dibangun tahun 1955 ini pernah ada sepasang kekasih yang bekerja di Pabrik Gula Madukismo.
Namun sayang, cinta keduanya tidak direstui oleh orang tua dari pihak wanita.
Akhirnya, keduanya nekat untuk menikah dan menggelarnya di Pabrik Gula Madukismo pada malam hari.
Namun pada hari tersebut, kejadian nahas justru terjadi tepat saat keduanya akan menikah.
Segerombolan orang tiba-tiba datang ke pabrik, hingga sang wanita terjebak di mesin penggilingan tebu.
Kekasihnya yang hendak menolong malah turut terjebak, keduanya pun tewas dalam mesin tersebut.
Untuk menghormati jasad keduanya, masyarakat setempat lalu menggelar upacara manten tebu yang dilakukan setiap tahun.
Walau konon berasal dari kisah tragis, namun tradisi ini memiliki tujuan yang luhur.
Dikutip SketsaNusantara.id dari situs Warisan Budaya Kemdikbud, tujuan tradisi ini yakni sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah panen tebu yang melimpah serta harapan panen yang akan datang semakin baik.
Bahkan sepasang pengantin tebu juga akan diberi nama yang menyimbolkan harapan-harapan tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!