SketsaNusantara.id - Serabi Solo merupakan kuliner tradisional yang konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram.
Bahkan nama makanan bercita rasa gurih manis ini tercantum dalam serat centhini yang ditulis para pujangga Keraton Surakarta pada 1814.
Bentuk serabi solo memang berbeda dari serabi di daerah lain. Mirip dengan mangkok dengan kerak di sekelilingnya.
Sedangkan bagian tengah, membentuk adonan empuk gurih yang topingnya bisa ditambahkan sesuai selera.
Serabi Solo terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan santan kelapa dan gula.
Tak sama dengan serabi dari Bandung yang disajikan dengan kuah manis, serabi solo bisa langsung disantap.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman surakarta.go.id, pembuatan Serabi solo masih menggunakan cara tradisional. Adonan tepung beras, santan, gula, garam dan daun pandan sebagai pewangi akan dituang di atas wajan kecil.
Dimasak menggunakan tungku arang selama kurang lebih 3 menit.
Untuk mendapatkan kerak di pinggir serabi, penjual biasanya menggunakan centong. Saat adonan dimasukkan ke dalam wajan kecil, centong ditekan ke tengah adonan, lalu dilepas.
Bahan adonan yang tersisa di pinggir wajan, dibiarkan untuk menghasilkan kerak berwarna kecoklatan.
Setelah matang, serabi akan digulung dan dibungkus dengan daun pisang.