Pataka ini juga berasal dari era Singasari dan diwariskan kepada Majapahit.
Dibuat dari tembaga dan berbentuk tombak dengan dua mata tombak kembar di atas kepala dan ekor naga, pataka ini biasa dipasang di atas kapal ekspedisi sebagai tanda kehadiran wakil raja atau negara.
Bendera yang dipasang, “Getih-Getah Samudra,” dengan lima garis merah dan empat garis putih, melambangkan kebesaran armada laut Majapahit.
3. Pataka Sang Padmanaba Wiranagari
Dibuat pada era Singasari, pataka ini berhasil direbut kembali oleh senopati Singasari dari Kerajaan Jayakatwang Kediri.
Raja Jayakatwang, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raden Wijaya, meruntuhkan Singasari ketika para senopati berada di luar negeri.
Dengan tekad mengembalikan kehormatan Singasari, para senopati berhasil merebut kembali pataka ini meski sempat dilarang oleh Raden Wijaya yang masih trauma akibat perang saudara.
4. Pataka Sang Hyang Naga Amawabhumi
Pataka ini memiliki arti "orang yang menguasai negara".
Dalam Mukadimah Kutara Manawa (Undang-Undang zaman Majapahit), Sang Amawabhumi ditegaskan harus teguh hati dalam menetapkan hukum dan denda.
Begitu juga dengan kepemimpinannya yang harus bertindak adil agar negaranya tetap damai dan sejahtera.
Baca Juga: Mengenal Tombak Pandu Wasistho, Pusaka Andalan Pugerkulon Jember: Punya Arti Nama Mendalam
Kini, pusaka-pusaka tersebut menjadi saksi bisu dari kejayaan Kerajaan Majapahit yang tersimpan dengan rapi di museum.