Saat sampai di Banten, anak buah Cornelis tinggal 249 saja akibat meninggal dunia karena terjangkit penyakit juga karena perkelahian di kapal.
Awalnya kedatangan Cornelis diamanut baik oleh penduduk setempat serta pendatang yang tinggal di Banten.
Namun kelakuan buruk mereka membuat banyak konflik sehingga ada beberapa diantaranya dihukum, termasuk kakak Cornelis yakni Frederick yang kemudian mengakibatkan mereka harus pergi dari Banten.
Saat berada dalam perjalanan itu mereka menghadapi sejumlah penyerangan hingga berakhir di Bali dan mendapatkan rempah-rempah lalu kembali ke Belanda.
Pada tahun 1599 Cornelis kembali ke Nusantara, tepatnya mereka menuju Aceh, disana mereka disambut baik.
Namun karena tingkah sembrono dan seenaknya orang-orang Belanda bawaan Cornelis maka mereka harus berhadapan dengan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Kemala Hayati.
Cornelis de Houtman terkenal karena pertempuran duel dengan Laksamana Malahayati, seorang pahlawan wanita dari Aceh.
Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1599, de Houtman tewas di tangan Malahayati, yang menunjukkan ketahanan dan keberanian pasukan Aceh dalam mempertahankan wilayah mereka dari penjajahan.
Meskipun de Houtman tidak hidup lama, ia meninggalkan warisan yang signifikan dalam sejarah eksplorasi dan perdagangan Belanda.
Ia dianggap sebagai pelopor dalam mendirikan jalur perdagangan yang menguntungkan antara Eropa dan Asia, yang kemudian diikuti oleh banyak penjelajah dan pedagang Belanda lainnya.
Baca Juga: Tradisi Mudik Sudah Ada Sejak Masa Belanda? Perusahaan Kereta Jadikan Tradisi Ini Sebagai Propaganda
Melalui ekspedisinya, Cornelis dianggap telah membuka jalan bagi perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan dan berkontribusi pada pengaruh Belanda di Asia Tenggara.