Dikutip dari laman jabar.kemenag.go.id, Pesantren Sukamanah menjadi saksi gugurnya 86 orang syuhada yang dipimpin Kyai Zainal Mustafa saat melawan Jepang.
Sebelumnya, Kyai Zainal Mustafa sudah menjadi perhatian pihak Jepang karena kiprahnya cukup berpengaruh di masyarakat Tasikmalaya.
Baca Juga: Ada Berapa Tingkatan Paskibraka? Pahlawan Muda Pengibar Bendera Pusaka di Hari Kemerdekaan
Mulanya pada 17 November 1941, Kyai Zainal Mustafa ditahan oleh pemerintah Hindia Belanda di Lapas Sukamiskin.
Setelah bebas, tahun 1942 ia kembali ditangkap karena aktivitas politik yang dilakukan dan dibebaskan saat Jepang datang ke Indonesia tahun 1943.
Saat pendudukan Jepang di Indonesia, Kyai Zainal Mustafa sangat menentang kebijakan yang dibuat oleh Nippon.
Salah satunya kebijakan seikerei atau memberikan hormat kepada kaisar Jepang hingga kehijakan shokuryo kamri zimusyo pun ditentangnya.
Sehingga, perlawanan pun dilakukan bersama para santri dengan cara melakukan sabotase menculik orang penting Jepang.
Tak hanya itu, upaya yang juga dilakukan Kyai Zainal Mustafa yaitu sabotase komunikasi dan telepon serta membebaskan tahanan politik.
Di tahun 1944 Kyai Zainal Mustafa dan para santrinya melakukan penyerangan dari arah utara dan selatan.
100 orang pasukan disiapkan untuk menjaga lingkungan Pesantren Sukamanah, namun akhirnya bisa dibobol juga oleh Jepang.
Jengkel dengan tindakan ulama asal Tasikmalaya itu, Jepang melakukan operasi pembersihan yang menangkap 900 orang terduga pemberontak.