Jenderal Soedirman dikenal sebagai pemimpin yang sederhana tetapi sangat berdedikasi.
Meskipun menderita sakit paru-paru, ia terus memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda dari 1948 hingga 1949.
Ia terus berjuang meskipun kondisi kesehatannya semakin memburuk.
Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan besar ke Yogyakarta dan menangkap Presiden Soekarno serta tokoh-tokoh penting lainnya.
Baca Juga: Siapa Cornelis de Houtman yang Dibunuh Laksamana Malahayati? Pelaut Belanda Pemburu Rempah Nusantara
Soedirman tetap melanjutkan perlawanan dan akhirnya memutuskan untuk bergerak ke Gunung Willis, Kediri, untuk melanjutkan perjuangan.
Meskipun harus dipindahkan dengan tandu karena sakit, Soedirman terus berjuang. Pada 1 Agustus 1949, gencatan senjata diumumkan.
Soedirman akhirnya setuju menghentikan perang gerilya setelah mendapatkan persetujuan dari Sultan Hamengkubuwono IX dan kembali ke Yogyakarta.
Jenderal Soedirman meninggal pada 29 Januari 1950 di Magelang, saat berusia 34 tahun.
Pada tahun 1964, Presiden Soekarno menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Soedirman.
Kisahnya tetap menjadi simbol keberanian dan kesetiaan bagi bangsa Indonesia.
Soedirman dianugerahi pangkat Jenderal Besar TNI pada 30 September 1997, sebuah penghargaan istimewa yang hanya diberikan kepada prajurit dengan jasa luar biasa bagi bangsa dan negara.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI