SketsaNusantara.id - Mata Air Tuk Sibedug bagi masyarakat Seyegan, Sleman, Yogyakarta adalah sumber air yang diyakini tidak pernah mengalami kekeringan walaupun saat musim kemarau.
Selain itu, masyarakat Seyegan juga percaya bahwa Tuk Sibedug memberikan banyak keberkahan dalam kehidupan, karena dari mata air itulah mereka bisa mengairi sawah dan ladang.
Keberadaan Tuk Sibedug tidak bisa dilepaskan dari perjalanan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Seyegan.
Setiap tahunnya pada hari Jumat Pahing, Jumadil Akhir sesuai perhitungan Kalender Jawa akan diadakan tradisi adat "Tuk Sibedug" sebagai bentuk penghormatan atas jasa dari Sunan Kalijaga dan bentuk rasa syukur karena masih diberi keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Secara administratif, Tuk Sibedug berada di Desa Mranggen, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut kisah yang beredar di masyarakat, Sunan Kalijaga yang sedang dalam perjalanan dakwahnya berhenti di bawah pohon besar di daerah Seyegan yang dilansir SketsaNusantara.id berdasarkan kanal Youtube @DMTV.
Baca Juga: Taktik Supit Urang Pangeran Diponegoro Buat Jenderal De Kock dan Pasukan Belandanya Kewalahan
Kebetulan saat itu sedang hari Jumat Pahing, dan bagi kaum pria wajib melaksanakan ibadah salat Jumat, termasuk Sunan Kalijaga beserta murid-muridnya.
Sunan Kalijaga yang tidak menemukan sumber air di daerah tersebut kemudian berdoa kepada Allah SWT dan menancapkan tongkatnya di bawah pohon besar itu dan akhirnya muncullah air yang jernih.
Kemunculan air yang jernih itu lama-kelamaan tambah besar sampai menjadi sendang dan peristiwa tersebut bersamaan dengan bunyinya suara bedug, sehingga dinamakan dengan "Mata Air Tuk Sibedug".
Baca Juga: Siapa Cornelis de Houtman yang Dibunuh Laksamana Malahayati? Pelaut Belanda Pemburu Rempah Nusantara
Konon katanya, orang-orang yang berada di sekitar tempat itu berusaha unruk mencabut tongkat milik Sunan Kalijaga, namun tidak ada yang berhasil.
Tongkat yang menancap begitu kuat didalam tanah diketahui baru bisa dicabut oleh 3 orang yaitu Mbah Jumari (juru kunci), Pak Dukuh, dan Pak Carik.