Perang Jawa bukan hanya perlawanan terhadap pemerintah kolonial, melainkan sebuah perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat dan taktik perang urat saraf, termasuk kegiatan mata-mata.
Berbagai cara licik digunakan Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro, termasuk sayembara dengan hadiah besar bagi yang bisa menangkapnya.
Gubernur Jenderal de Kock, yang diangkat menjadi Panglima Militer pada tahun 1827, menggunakan strategi perbentengan untuk membatasi ruang gerak pasukan Diponegoro.
Benteng-benteng dengan kawat berduri didirikan untuk mempersempit gerakan pasukan Diponegoro.
Strategi ini akhirnya melemahkan perlawanan Pangeran Diponegoro, terutama setelah pemimpin spiritual pemberontakan.
Kiai Mojo, ditangkap pada tahun 1828, diikuti oleh penyerahan diri Sentot Prawirodirjo dan pasukannya.
Pada tanggal 16 Februari 1830, Pangeran Diponegoro setuju untuk bertemu dengan utusan Jenderal de Kock, Kolonel John Baptist Cleerens, di Remo Kamal.
Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Akhirnya, pada tanggal 28 Maret 1830, bertepatan dengan Idul Fitri, Jenderal de Kock bertemu dengan Pangeran Diponegoro dan menegaskan bahwa beliau akan ditahan.
Pangeran Diponegoro akhirnya menyerah tanpa perlawanan dan dibawa ke Batavia pada tanggal 5 April 1830.
Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado pada tanggal 30 April 1830 bersama istri dan para pengikut setianya.