jelajah

Cara Licik Belanda Menangkap Pangeran Diponegoro: Sampai Berpura-pura Lakukan Gencatan Senjata

Kamis, 25 Juli 2024 | 11:30 WIB
Lukisan ilustrasi cara licik Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. (X @TeguhTatong)

Perang Jawa bukan hanya perlawanan terhadap pemerintah kolonial, melainkan sebuah perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat dan taktik perang urat saraf, termasuk kegiatan mata-mata.

Baca Juga: Kisah Kekejaman Amangkurat I: Bantai Ribuan Ulama Demi Tahta, Peristiwa Tragis yang Jadi Titik Balik dalam Sejarah Kemunduran Mataram Islam

Berbagai cara licik digunakan Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro, termasuk sayembara dengan hadiah besar bagi yang bisa menangkapnya.

Gubernur Jenderal de Kock, yang diangkat menjadi Panglima Militer pada tahun 1827, menggunakan strategi perbentengan untuk membatasi ruang gerak pasukan Diponegoro.

Benteng-benteng dengan kawat berduri didirikan untuk mempersempit gerakan pasukan Diponegoro.

Baca Juga: Manis dan Legitnya Wajik Ketan dalam Hidangan Pernikahan Adat Jawa,Ternyata Tekstur Lengketnya Mengandung Filosofi Tersembunyi

Strategi ini akhirnya melemahkan perlawanan Pangeran Diponegoro, terutama setelah pemimpin spiritual pemberontakan.

Kiai Mojo, ditangkap pada tahun 1828, diikuti oleh penyerahan diri Sentot Prawirodirjo dan pasukannya.

Pada tanggal 16 Februari 1830, Pangeran Diponegoro setuju untuk bertemu dengan utusan Jenderal de Kock, Kolonel John Baptist Cleerens, di Remo Kamal.

Baca Juga: Bagaimana Asal-usul Kue Cucur? Jajanan Tradisional dengan Bentuknya yang Unik Khas Suku Betawi, Simak di Sini...

Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.

Akhirnya, pada tanggal 28 Maret 1830, bertepatan dengan Idul Fitri, Jenderal de Kock bertemu dengan Pangeran Diponegoro dan menegaskan bahwa beliau akan ditahan.

Pangeran Diponegoro akhirnya menyerah tanpa perlawanan dan dibawa ke Batavia pada tanggal 5 April 1830.

Baca Juga: 5 Kontroversi Amangkurat I, Raja Kesultanan Mataram Islam yang Terkenal Kejam dan Bengis, Tinggalkan Jejak Kelam bagi Sejarah Indonesia

Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado pada tanggal 30 April 1830 bersama istri dan para pengikut setianya.

Halaman:

Tags

Terkini