Keberadaan Hulptroepen dalam penangkapan Diponegoro bahkan didokumentasikan dalam lukisan karya Raden Saleh dan Nicolaas Pieneman.
Baca Juga: Sosok Arung Palakka, Sultan Bone yang Memperjuangkan Kemerdekaan Rakyat Bugis, Memiliki Gelar...
Keberadaan Hulptroepen tidak berakhir di masa Perang Jawa.
Mereka tetap aktif selama periode kolonial berikutnya, termasuk saat Belanda mendirikan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger).
Dukungan penduduk lokal dalam militer Hindia Belanda ini berkontribusi pada sentimen nasionalis terhadap anggota KNIL, yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia bagian timur.
Hulptroepen juga berperan dalam evakuasi Sultan Ternate selama pendudukan Jepang.
Sultan Muhammad Jabir Syah dari Ternate dievakuasi oleh satuan tentara Australia dan Hulptroepen ke Pulau Hiri pada akhir September 1944.
Partisipasi penduduk lokal, terutama dari Minahasa, dalam Hulptroepen tidak terlepas dari perjanjian yang menguntungkan.
Pada awalnya, orang Minahasa enggan membantu, tetapi setelah Perang Tondano (1808), sejumlah raja Minahasa setuju untuk mengerahkan pasukan.
Keberanian dan keahlian Hulptroepen dalam situasi berbahaya membuat mereka dihormati dan dianggap lebih unggul dibandingkan tentara kolonial Belanda sendiri.
Hulptroepen adalah contoh kompleksnya hubungan antara penjajah dan pribumi, serta dilema moral yang dihadapi oleh mereka yang berada di tengah konflik.
Keberadaan mereka menunjukkan bagaimana Belanda memanfaatkan perpecahan dan kerja sama lokal untuk mempertahankan kekuasaan kolonialnya di Indonesia.***