SketsaNusantara.id - Amangkurat I merupakan raja keempat Kesultanan Mataram Islam yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling kontroversial dalam sejarah Indonesia.
Salah satu tindakan kejamnya yang paling menggemparkan dalam catatan sejarah adalah pembantaian ribuan ulama yang terjadi pada tahun 1648.
Peristiwa ini menjadi noda kelam dalam sejarah kerajaan dan turut memicu kemunduran Kesultanan Mataram Islam.
Amangkurat I alias Raden Mas Sayyidin merupakan raja keempat yang memimpin Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1646-1677.
Ia menggantikan ayahnya, Sultan Agung yang wafat pada tahun 1645.
Sejak awal pemerintahannya, Amangkurat I membuat kebijakan yang menuai kontroversi yakni dengan memberlakukan desentralisasi atau kekuasaan terpusat untuk kepentingannya sendiri hingga menggeser ibu kota dari Mataram ke Plered.
Baca Juga: Sosok Arung Palakka, Sultan Bone yang Memperjuangkan Kemerdekaan Rakyat Bugis, Memiliki Gelar...
Kebijakan ini pun menuai kontroversi dan penolakan dari rakyat serta dari kalangan bangsawan, pejabat kerajaan hingga para ulama yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Amangkurat I yang baru saja naik tahta, merasa terancam posisinya oleh para ulama dan bangsawan yang tidak sependapat dengan kebijakannya.
Menurut sejarawan HJ de Graf dalam buku "Disintegrasi Mataram di bawah Mangkurat I", Raja Amangkurat I yang dianggap lalim ingin digulingkan oleh adiknya sendiri, yakni Pangeran Alit dengan mengerahkan bantuan dari rakyat hingga para ulama dan bangsawan kerajaan.
Amangkurat I pun berencana balas dendam dan menggagalkan rencana kudeta adiknya dengan mengerahkan 4 orang kepercayaannya untuk membasmi semua kalangan yang bekerjasama dengan Pangeran Alit.
Selain ada dendam dengan sang adik, Amangkurat I ingin menyingkirkan para ulama karena adanya perbedaan pandangan mengenai arah pengembangan kerajaan.