Kuliner ini menjadi simbol agar manusia mampu menyingkirkan belenggu sebelum mengecap nikmatnya kehidupan.
Dalam bahasa jawa lemper punya kepanjangan yen dielem atimu ojo memper, yang artiya tidak boleh sombong ketika dipuji orang lain.
Pujian inilah yang seringkali membuat lalai dan justru menjadi belenggu manusia dalam mengarungi kehidupan.
Oleh karena itu, lemper mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan bersyukur atas limpahan rahmat sang Pencipta.***