SketsaNusantara.id - Masyarakat tak asing dengan nama KH Bisri Syansuri yang dikenal sebagai ulama besar nusantara yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan agama Islam di Indonesia.
KH Bisri Syansuri yang akrab disapa Kyai Bisri atau Mbah Bisri ini merupakan ahli fiqih yang menimba ilmu dari beberapa pesantren di Jawa hingga ke tanah suci mekah pada awal abad ke-19.
Kyai Bisri juga turut mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Kiprahnya menjadi seorang pendidik pun cukup menarik untuk dibahas. Salah satu terobosan terbesarnya sepulang dari tanah suci Mekah adalah membuka kelas pesantren khusus putri setelah mendirikan Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif di Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Sebelum itu, terdapat salah satu murid Kyai Bisri bernama Salamun yang menjadi santri generasi pertama di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ma'arif atau yang kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Denanyar Jombang.
Sosoknya menjadi menarik karena Salamun termasuk santri generasi pertama di bawah asuhan KH Bisri Syansuri yang ikut berperang melawan penjajah Belanda untuk merebut kemerdekaan Indonesia.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman resmi Ponpes Denanyar, Salamun merupakan anak dari Khosmul, santri dari Kiai Hasan yang hijrah dari Pesantren di Demak menuju Jombang untuk menghindar dari kejaran tentara Belanda pada zaman penjajahan.
Salamun yang lahir pada tahun 1914, diantar ayahnya saat berusia 7 tahun ke Ponpes Denanyar bersama 7 santri lainnya yang menjadi generasi pertama pada tahun 1921.
Kala itu, Ponpes Denanyar masih berupa gubuk sederhana. Bangunannya pun didirikan dari potongan bambu yang disusun menjadi kamar-kamar untuk menginap para santri.
Tak kurang dari setahun, Ponpes Denanyar memiliki 15 santri. Salamun bersama 14 teman santri lainnya bergotong-royong membangun kamar-kamar santri di pesantren tersebut.
Banyak pelajaran yang didapatkan selama 6 tahun menjadi santri di bawah asuhan KH Bisri Syansuri, hingga akhirnya ia diarahkan sang guru untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tambakberas Jombang.