Sejarah singkat tentang Mbah Shiddiq atau KH. Muhammad Shiddiq, beliau lahir pada tahun 1854 M di Desa Waru gunung, Kecamatan Lasem Kabupaten Rambang.
Merujuk pada Buku Nahkoda Nahdliyyin: Biografi Rais Aam Syuriyah & Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sejak 1926 Hingga Sekarang karya M. Sholahudin, KH. Muhammad Shiddiq merupakan putra dari KH. Abdullah bin KH. Sholeh (Raden Tirto Widjojo).
Nasabnya diketahui terhubung hingga ke Rasulullah SAW, bahkan dikatakan masih cucunya.
Baca Juga: Siapa Mbah Shiddiq Jember? Ulama Penyebar Agama Islam se Antero Jember, Punya Nama Asli...
Perjalanan KH. Muhammad Shiddiq dalam menyebarkan agama Islam di Jember terbilang panjang.
Kiai Siddiq diperintah gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) untuk berdakwah di Jember yang masih sedikit penduduk namun telah ada agama Hindu dan Budha.
KH. Muhammad Shiddiq melakukan dakwah untuk menyiarkan agama Islam sembari pedagang, Ia dikenal sebagai pedagang kain, sarung, alat-alat pertanian, kitab, dan lair-lain.
Mbah Shiddiq disela-sela profesi mengajarkan kepada anak-anak di pasar tentang agama Islam, hingga ia memiliki banyak murid atau santri.
Dikarenakan jumlah muridnya yang terus bertambah, KH. Muhammad Shiddiq akhirnya mendirikan sebuah mushola di sebelah rumahnya yang waktu itu masih tinggal di Kampung Gebang.
Musholla tersebut digunakannya untuk mengajarkan membaca surat Al-Qur'an, ibadah dan ajaran Islam lain seperti aqidah dan akhlak.
Kemudian, Kiai Shiddiq berikhtiar mencari tanah yang lebih luas untuk mewujudkan cita-citanya membangun pesantren dengan pondok-pondok santri yang mengelilinginya.
Dari hasil istikharah, Kiai Shiddiq temukan tanah idamannya itu di daerah Talangsari dan pada tahun 1915, Kiai Siddiq pindah ke daerah Talangsari tersebut bersama dengan semua santrinya yang di Gebang.
Rumah di Gebang ditempati oleh KH Mahmud yakni putranya yang sekaligus Kiai Mahmud melanjutkan pengajaran agama di Mushola Gebang.