Baca Juga: Ternyata Inilah Jin Paling Ditakuti yang Menjadi Penunggu dan Pelindung Tanah Jawa, Ada Apa Saja?
Seiring waktu, laut di Selat Muria perlahan menyusut akibat berbagai peristiwa geologi.
Salah satu periode penyusutan terjadi sekitar awal abad ke-13.
Pendangkalan selat ini disebabkan oleh sedimentasi dari DAS Jratun Seluna yang membawa material tanah dan batuan, sehingga selat berubah menjadi daratan.
Diperkirakan pada awal abad ke-15, Selat Muria telah menjadi selat yang sempit, namun tetap menjadi jalur perdagangan dan transportasi yang ramai.
Pada abad ke-16, Selat Muria menjadi pelabuhan penting bagi Kerajaan Demak, mendukung perkembangan perdagangan dan maritim di wilayah tersebut.
Pelabuhan ini dikelola oleh Ratu Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16, yang memiliki wilayah di seberang selat, yaitu di Pulau Muria.
Ratu Kalinyamat dikenal sebagai raja wanita tangguh dengan kekuatan maritim yang besar dan dihormati oleh Portugis.
Keberadaan Selat Muria yang hilang ini bukan hanya cerita legenda, tetapi didukung oleh bukti-bukti ilmiah.
Pengetahuan tentang sejarah geologis ini menambah kekayaan budaya dan sejarah Indonesia yang patut kita lestarikan.
Bukti keberadaan Selat Muria diperoleh dari berbagai sumber, termasuk pemrosesan citra satelit, peninggalan arkeologis, dan temuan paleontologis.
Ketiganya menunjukkan bahwa wilayah tersebut pernah tertutup oleh air laut.
Hilangnya Selat Muria juga mempengaruhi aktivitas maritim di Jawa Tengah.