SketsaNusantara.id- Jika kalian berkesempatan untuk mengunjungi Gunung Lawu. Pasti sudah tidak asing lagi dengan cerita Raja Majapahit yang moksa di sana.
Ialah sosok Prabu Brawijaya V, seorang raja di Kerajaan Majapahit. Prabu Brawijaya V adalah raja terakhir.
Raja ini memimpin Majapahit dari Tahun 1468 sampai 1478. Adapun ia memiliki banyak selir dan anak, salah satunya adalah Raden Patah.
Ayah dari Raden Patah ini lahir sekitar Tahun 1413 Masehi. Terdapat sumpah Prabu Brawijaya V, kerajaannya harus menghadapi perang dengan Kerajaan Keling atau Kediri.
Saat itu, Kerajaan Keling dipimpin oleh Raja Girindra Wardhana. Yakni memimpin pada Tahun 1748.
Begini sejarah gunung Lawu, Gunung Lawu terkenal sangat angker. Gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini konon menjadi tempat moksanya Prabu Brawijaya V.
Jelang akhir hidupnya, ia dikisahkan sedang moksa. Moksa adalah aksi memisahkan diri dari kehidupan duniawi dan menguasai kesempurnaan rohani.
Ia bertapa di Gunung Lawu bukan tanpa alasan. Rupanya ada kisah di balik keputusan Prabu Brawijaya V.
SketsaNusantara.id melansir dari YouTube dp dolan, sang raja terdesak karena memiliki firasat bahwa Kerajaan Majapahit berada di ambang keruntuhan.
Saat itu, sang anak Raden Patah juga memeluk Islam dan mendirikan kerajaan baru di Demak.
Adanya peninggalan moksa atau petapa Prabu Brawijaya V adalah keberadaan Candi Sukuh dan Candi Cetho.
Artikel Terkait
Candi Ampel Tulungagung Peninggalan Kerajaan Majapahit, Apakah Ada Kaitannya dengan Sunan Ampel Wali Songo?!
59 Km dari Rumah Baru Jokowi, Gunung Sakral Tempat Ritual Malam 1 Suro Ini Lokasi Moksa Raja Majapahit
Kitab Kutawa Manawa: KUHP Era Kerajaan Majapahit, Tegas hingga Aneh, Ada Hukuman untuk Koruptor dan Tukang Selingkuh
Ikan Titisan Dewa! Yuk Liburan ke Candi Rambut Monte Blitar Jawa Timur, Peninggalan Masa Kerajaan Majapahit, Boleh Berenang?
Rawon, Makanan Khas Jawa Timur Berusia 1000 Tahun, Dulu Jadi Makanan Bangsawan, Warisan Kerajaan Majapahit?
Lokasi Punden Nyai Ageng Bagelen Purworejo: Petilasan Keramat dengan Berbagai Larangan, Konon Diucapkan Sebelum Moksa dari Bumi