SketsaNusantara.id - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebagian besar penduduk Nusantara, dari Semenanjung Malaya hingga Filipina bagian selatan, memeluk agama Islam?
Ternyata, kepercayaan nenek moyang kita yang disebut Kapitayan sudah mengandung prinsip yang mirip dengan ajaran Islam.
Sejarawan menemukan bahwa sejak ratusan tahun lalu, penduduk Nusantara, terutama di Jawa, percaya pada entitas tunggal bernama Sanghyang Taya.
Baca Juga: Apa Hubungan Sunan Bayat dan Syekh Siti Jenar? Kisahnya yang Mengguncang Himpunan Wali Songo
Sanghyang Taya adalah Tuhan yang tak terlihat, tidak berawal dan tidak berakhir, yang dianggap sebagai pencipta dan pengatur alam semesta.
Kepercayaan ini mengajarkan bahwa hanya Sanghyang Taya yang berhak disembah, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Pegawai Jalanan.
Menariknya, praktik ibadah Kapitayan sangat mirip dengan shalat dalam Islam.
Orang Jawa saat itu melakukan sembahyang dengan gerakan yang mirip dengan shalat, seperti berdiri tegak, membungkuk, duduk bersimpuh, dan sujud.
Baca Juga: 250 Anak Tangga Makam Sunan Bayat: Petualangan Mistis di Makam Sunan Bayat yang Wajib Anda Kunjungi!
Mereka menyembah Sanghyang Taya di tempat ibadah yang disebut sanggar, yang mirip dengan masjid atau surau.
Kesamaan antara ajaran Kapitayan dan Islam membuat Islam mudah diterima oleh penduduk Nusantara.
Ketika para penyebar agama Islam datang, mereka menemukan bahwa masyarakat sudah memiliki konsep ketuhanan yang mirip dengan Islam, sehingga penyebaran agama menjadi lebih mudah.
Kajian sejarah menunjukkan bahwa kepercayaan Kapitayan bukanlah hasil dari pengaruh Hindu atau Buddha dari India, melainkan konsep asli dari sistem kepercayaan masyarakat Nusantara.